Dalam setiap pesta adat, musyawarah, atau pertemuan keluarga, agama selalu menjadi bingkai utama. Acara dibuka dengan doa, ditutup dengan petuah Qur’ani. Dengan cara itulah Mandailing mempertahankan identitasnya: beradat yang bersyahadat.
Muarasoro: Ingatan yang Hidup
Sebagai anak kampung dari **Desa Muarasoro, Kotanopan**, saya tumbuh dalam suasana yang sarat dengan adat dan agama. Sungai-sungai kecil mengalir tenang di sela kebun kopi dan padi.
Baca Juga: Tablik Akbar di Balai Raya Semarak Dihadiri Ribuan Masyarakat BengkuluSelepas magrib, anak-anak berkumpul di surau untuk mengaji. Orang tua duduk di beranda rumah sambil bercerita tentang sejarah kampung, tokoh-tokoh masa lalu, dan petuah tentang hidup yang baik.
Di antara cerita itu, kisah *mande ilang* selalu muncul — seolah menjadi pintu pertama untuk memahami siapa kita sebagai orang Mandailing. Mungkin kisah itu tak tercatat dalam buku sejarah resmi. Tapi ia hidup dalam ingatan masyarakat, menjadi warisan tak tertulis yang mengikat rasa kebersamaan.
Jejak yang Tak Hilang
Sejarah Mandailing mungkin dimulai dari sebuah legenda tentang “ibu yang hilang”. Namun Mandailing sendiri tak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup — dalam adat yang dijunjung tinggi, dalam syiar Islam yang mengakar kuat, dan dalam ingatan kolektif masyarakatnya.
Baca Juga: Gubernur Helmi Hasan Lantik Riduan sebagai Komisaris Independen Bank Bengkulu
Kisah tentang *mande ilang* bukan sekadar romantika masa lalu. Ia adalah simbol perjumpaan, simbol keterhubungan antara satu budaya dengan budaya lain, antara masa lalu dan masa kini. Ia mengingatkan kita bahwa identitas Mandailing terbentuk bukan dari kesendirian, tetapi dari **pertemuan dan perpaduan**.
Dan di tanah ini — di Kotanopan, di Muarasoro, di seluruh Madina — jejak itu masih hidup. Seperti sungai yang tak pernah kering, sejarah Mandailing mengalir dalam setiap urat nadi masyarakatnya. Ia menjadi warisan yang tak boleh dilupakan, sebab dari sanalah kita mengenal siapa kita sebenarnya.
(Bersambung ke Bagian II: “Jejak Padri dan Pembentukan Identitas Mandailing di Tengah Gelombang Sejarah”)
Artikel Terkait
Seminar Rohani Kristen di Gesba Makassar, Hadirkan Pembicara Pdt. Dr Immanuel Darsana, M.Th
Sekolah Adat "Tunggu Tubang" Warga Semende Ulu Nasal Diresmikan
Gubernur Helmi Hasan Kukuhkan Sugimulyo Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu
Sukseskan Pembangunan Daerah, Pemprov Bengkulu Genjot PAD dan Percepat Realisasi Belanja
Pertamina Dukung One Day Trail Troff Hasanuddin "Jelajah Butta Pangrannuangku"
Hadiri Konferda PDI-P Bengkulu, Ribka Tjiptaning Kagumi Semangat Nasionalisme Gubernur Helmi
Pemprov–Polda Bengkulu Satukan Langkah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Gubernur Helmi Hasan Lantik Riduan sebagai Komisaris Independen Bank Bengkulu
Efisiensi Anggaran, OPD Lingkup Pemprov Bengkulu Segera Dirampingkan
Mengubah Perusahaan Jamu Keluarga Jadi Ikon Industri Internasional