Oleh: Bangun Lubis – Wartawan - Asal Desa Muarasoro, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara
Ada satu wilayah di ujung selatan Sumatera Utara yang menyimpan jejak panjang peradaban dan kisah turun-temurun yang tak lekang oleh waktu: Mandailing. Ia bukan sekadar nama daerah, melainkan identitas yang lahir dari pertemuan berbagai budaya, keyakinan, dan sejarah panjang manusia yang berdiam di antara lembah hijau dan aliran sungai yang tenang.
Masyarakat Mandailing tumbuh dari bumi yang subur — dari desa-desa di sekitar **Kotanopan**, Panyabungan, hingga ke pesisir Natal. Dari tanah inilah banyak perantau Mandailing menapaki hidup, namun akar sejarahnya selalu tersimpan rapi di hati: pada adat, pada agama, dan pada cerita tua yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Legenda Mande Ilang: Sebuah Cerita Rakyat
Sejak kecil, di Desa Muarasoro, Kotanopan, saya sering mendengar kisah tentang asal usul nama Mandailing. Kisah itu datang bukan dari buku atau arsip resmi, melainkan dari lisan orang-orang tua kampung yang sarat hikmah dan makna.
Baca Juga: Pemprov–Polda Bengkulu Satukan Langkah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Konon, kata Mandailing berasal dari dua kata dalam bahasa Minangkabau: mande yang berarti “ibu”, dan ilang yang berarti “hilang”. Maka jadilah sebutan mande ilang — ibu yang hilang.
Ceritanya, pada masa silam, seorang perempuan Minangkabau “hilang” atau lebih tepatnya berpindah tempat, lalu menetap di wilayah perbatasan antara Minangkabau (Sumatera Barat) dan Tanah Batak bagian selatan.
Ia menikah dengan lelaki setempat, membangun keluarga, dan dari keturunan merekalah lahir satu komunitas yang dikenal sebagai orang Mandailing.
Boleh jadi kisah ini hanya legenda. Namun dalam masyarakat tradisional, legenda sering kali menyimpan “jejak sejarah” — bukan dalam bentuk tanggal dan angka, melainkan dalam bentuk ingatan kolektif, yang menjaga identitas dan kebanggaan sebuah komunitas. Cerita mande ilang bukan sekadar dongeng, melainkan refleksi atas sejarah panjang pertemuan antara orang Minangkabau dan Mandailing di perbatasan dua budaya besar Sumatera.
Jejak Minangkabau di Tanah Mandailing
Hubungan kultural Mandailing dengan Minangkabau bukan hanya dalam kisah lisan. Ia nyata dalam adat, bahasa, dan sistem sosial.
Baca Juga: Mengubah Perusahaan Jamu Keluarga Jadi Ikon Industri Internasional
Artikel Terkait
Seminar Rohani Kristen di Gesba Makassar, Hadirkan Pembicara Pdt. Dr Immanuel Darsana, M.Th
Sekolah Adat "Tunggu Tubang" Warga Semende Ulu Nasal Diresmikan
Gubernur Helmi Hasan Kukuhkan Sugimulyo Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Bengkulu
Sukseskan Pembangunan Daerah, Pemprov Bengkulu Genjot PAD dan Percepat Realisasi Belanja
Pertamina Dukung One Day Trail Troff Hasanuddin "Jelajah Butta Pangrannuangku"
Hadiri Konferda PDI-P Bengkulu, Ribka Tjiptaning Kagumi Semangat Nasionalisme Gubernur Helmi
Pemprov–Polda Bengkulu Satukan Langkah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Bencana
Gubernur Helmi Hasan Lantik Riduan sebagai Komisaris Independen Bank Bengkulu
Efisiensi Anggaran, OPD Lingkup Pemprov Bengkulu Segera Dirampingkan
Mengubah Perusahaan Jamu Keluarga Jadi Ikon Industri Internasional