Firman Soebagyo Ingatkan Risiko Geopolitik di Balik Misi Perdamaian Gaza

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 25 Januari 2026 | 07:00 WIB
Firman Soebagyo
Firman Soebagyo

Jakarta, SUARA PEMBARUAN  – Anggota DPR RI sekaligus politisi senior Partai Golkar, Firman Soebagyo, menilai keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian Gaza yang diprakarsai Amerika Serikat harus disikapi dengan sangat hati-hati.Baca Juga: Diikuti Ratusan Petenis Meja,  Paguyuban Gelapa  Kembali Gelar Turmini Tenis Meja 2026

Pasalnya, langkah tersebut berpotensi memengaruhi hubungan strategis Indonesia dengan Republik Rakyat Cina yang selama ini memiliki kepentingan besar di kawasan Timur Tengah, termasuk hubungan erat dengan Palestina.

Menurut Firman, dinamika geopolitik global saat ini menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, Amerika Serikat merupakan mitra strategis dalam berbagai kerja sama internasional.Baca Juga: Hadiri Muzakarah, Sekda Bengkulu : Masjid sebagai Pusat Pembinaan Umat

Namun di sisi lain, Cina juga menjadi mitra dagang utama Indonesia serta memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang signifikan di kawasan.

“Indonesia tidak boleh terlihat condong ke salah satu kekuatan besar. Keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat dan Cina adalah kunci agar kepentingan nasional tetap terjaga,” ujar Firman kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).

Ia menegaskan, setiap keputusan politik luar negeri harus berpijak pada prinsip politik bebas aktif yang sejak lama menjadi fondasi diplomasi Indonesia.Baca Juga: Bengkulu Utara Dapat Alokasi Pupuk Subsidi 4.929 Ton

Bergabung dalam misi perdamaian, menurutnya, tidak boleh dimaknai sebagai keberpihakan politik, melainkan murni atas dasar kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Firman juga mengingatkan bahwa Cina memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, baik dari sisi energi, perdagangan, maupun pengaruh geopolitik.

Karena itu, Indonesia perlu memastikan bahwa langkahnya tidak menimbulkan persepsi negatif di mata Beijing.Baca Juga: Dana BOS SD dan SMP Tahun 2026 di Kota Bengkulu Dialokasikan Rp 30 Miliar

“Jangan sampai niat baik Indonesia justru dibaca sebagai manuver politik yang menguntungkan salah satu blok. Ini bisa berdampak pada hubungan jangka panjang, terutama dalam kerja sama ekonomi dan investasi,” katanya.

Lebih lanjut, Firman menilai Indonesia justru memiliki modal besar untuk memainkan peran sebagai mediator independen, mengingat statusnya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan rekam jejak diplomasi yang konsisten membela kemerdekaan Palestina.Baca Juga: Bantuan Alsintan Wujudkan Swasembada Pangan di Gowa

“Indonesia seharusnya memaksimalkan peran diplomasi damai, memfasilitasi dialog, dan mendorong solusi yang adil bagi Palestina tanpa terseret kepentingan geopolitik negara besar,” tegasnya.

Ia menambahkan, kepentingan nasional harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan luar negeri. Pemerintah diminta melakukan kalkulasi matang agar langkah yang diambil sejalan dengan konstitusi, prinsip kemanusiaan, serta posisi strategis Indonesia di kancah global.Baca Juga: Bupati Gowa Tawarkan Wisata Air Terjun Barassang

“Indonesia punya posisi terhormat. Jangan disia-siakan dengan keputusan yang tergesa-gesa dan berpotensi menimbulkan dampak geopolitik jangka panjang,” pungkas Firman.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X