Gaza di Tengah Perang: Jeritan yang Menembus Langit, Kapan kah ini berhenti?
Oleh: Bangun Lubis - Wartawan Muslim
Di bumi yang dipenuhi debu dan darah itu, Gaza kembali berdarah. Setiap hari, langitnya dipenuhi dentuman bom dan raungan rudal. Tidak ada pagi yang benar-benar pagi, tidak ada malam yang benar-benar malam. Yang ada hanyalah suara ledakan yang memekakkan telinga, jeritan yang menembus langit, dan tangisan yang tidak pernah berhenti.
Di balik puing-puing rumah yang hancur, ada manusia yang kehilangan segalanya. Seorang ayah duduk bersila di atas beton yang sudah retak, di tempat yang dulu adalah ruang tamu penuh tawa. Di situ, ia meratapi istri dan dua anaknya yang tak sempat ia peluk untuk terakhir kalinya. Kini, hanya ada debu, puing, dan sunyi yang menampar hati. Tangannya gemetar, mengais reruntuhan dengan harapan sia-sia. Ia tahu, mereka tak akan kembali.
Baca Juga: Target Ekonomi Bengkulu Tumbuh 8 Persen, BI Optimistis Dapat Dicapai
Di sudut lain Gaza, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun berdiri terpaku. Boneka lusuh di pelukannya kotor, kepalanya hampir lepas. Matanya kosong, menatap langit yang setiap saat mengirimkan kilatan api. Dengan suara lirih, ia berbisik:
“Aku hanya ingin tidur… sekali saja… tanpa suara bom. Apakah itu terlalu sulit?”
Pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban. Ia menembus dada siapa pun yang mendengarnya, menyayat nurani yang masih hidup.
Sekolah yang Hancur, Mimpi yang Terkubur
Sekolah-sekolah kini hanya tinggal bangunan yang porak-poranda. Papan tulis masih berdiri, tetapi tertutup debu dan serpihan kaca. Buku-buku berserakan, sebagian terbakar, sebagian tertimbun puing. Di kursi-kursi yang terbalik, masih ada sisa-sisa harapan anak-anak Gaza yang bermimpi menjadi dokter, guru, atau insinyur. Semua mimpi itu kini terkubur bersama mereka yang tak sempat tumbuh besar.
Baca Juga: Jadikan Makassar Kota Bisnis dan Kota Pelayanan di Sektor Kesehatan
Rumah Sakit Nagaikan Neraka
Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat menyelamatkan nyawa berubah menjadi neraka. Lorong-lorong penuh dengan pasien terluka, anak-anak yang menangis memanggil ibunya, dokter yang bekerja tanpa henti dengan peralatan seadanya. Darah bercampur air mata, teriakan bercampur doa. Bau obat dan mesiu memenuhi udara, membuat setiap tarikan napas terasa berat.
Seorang dokter muda berkata dengan suara parau:
Artikel Terkait
Pemkab Bengkulu Tengah Lakukan Rotasi 122 Pejabat Eselon III dan IV
Indra Cahyadinata Akan Bawa Unib sebagai Kampus Terkemuka dan Terunggul di Kancah Nasional dan Internasional
Pemkot Bengkulu Siapkan Fasilitas Berjualan Bagi Pedagang UMKM di Taman Bongsai
Gubernur Helmi Hasan : Pengangguran di Bengkulu Terendah di Wilayah Sumatera
Gubernur Bengkulu Setuju Insentif Guru Honorer Guru dan Staf Pengajar Naik 2026
Belanja Pegawai Pemprov Bengkulu Tinggi Disoroti DPRD
Jalan Bengkulu Selatan-Pagar Alam, Sumsel Sudah Terbuka Setelah Putus Akibat Longsor