Tantangan Petani Konvensional di Ogan Ilir dan Masalah Stunting yang Mengancam Masa Depan Anak-Anak

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Jumat, 27 September 2024 | 11:40 WIB
Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. { Dok Nico ]
Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. { Dok Nico ]

Selain masalah ekonomi, pola konsumsi keluarga juga berperan besar dalam kejadian stunting. Banyak keluarga petani di Ogan Ilir tidak memiliki jadwal makan yang teratur untuk balita mereka, dan sering kali anak-anak dipaksa makan meskipun sedang tidak berselera. Dalam situasi tertentu, ibu-ibu bahkan lebih memilih menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum memberi makan anak-anak, yang tentu saja berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Nico juga menunjukkan bahwa 72,7% keluarga memiliki jarak kelahiran antara 2 hingga 5 tahun, yang seharusnya memberikan cukup waktu bagi ibu untuk fokus pada kebutuhan gizi anak-anak mereka. Namun, kenyataannya tidak demikian. Banyak ibu lebih memilih memberikan jajanan atau susu formula (sufor) sebagai pengganti makanan bergizi ketika anak-anak mereka menolak makan, sebuah kebiasaan yang justru memperburuk kondisi kesehatan anak.

Baca Juga: Tingkatkan Layanan terhadap Disabilitas, OJK Bengkulu Gandeng Industri Jasa Keuangan

Budaya dan Nilai Sosial yang Mempengaruhi Pola Asuh

Budaya juga menjadi faktor signifikan dalam perilaku pemberian makan pada balita. Di Ogan Ilir, pola asuh balita sering kali didasarkan pada tradisi yang diwariskan oleh orang tua atau lingkungan sekitar. Sebagai contoh, banyak ibu lebih memilih memberikan makanan yang sama dengan yang dimakan oleh anggota keluarga lainnya, meskipun makanan tersebut mungkin tidak memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Data menunjukkan bahwa budaya patriarki di wilayah ini juga memengaruhi distribusi makanan dalam keluarga, dengan ayah sering kali diprioritaskan dalam hal makanan, sementara anak-anak harus puas dengan sisa makanan yang ada.

Budaya seperti ini tentu menambah kompleksitas dalam upaya penurunan prevalensi stunting. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama mengakar sering kali sulit diubah, meskipun sebenarnya berdampak negatif terhadap kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, intervensi kesehatan dan gizi yang dilakukan harus memperhitungkan aspek budaya lokal agar lebih efektif.

Kesadaran dan Harapan untuk Masa Depan

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, studi ini juga mengungkapkan harapan. Mayoritas responden sepakat bahwa kondisi sosial ekonomi keluarga mereka berperan dalam kejadian stunting pada anak-anak. Ini menunjukkan bahwa, meskipun kesulitan ekonomi dan budaya yang mengakar kuat, para ibu petani di Ogan Ilir sadar akan pentingnya memperbaiki perilaku gizi keluarga.

Pemerintah telah meluncurkan berbagai program untuk menurunkan prevalensi stunting, termasuk program Keluarga Berencana (KB), penyediaan air bersih, dan sanitasi. Namun, untuk mencapai target penurunan stunting menjadi 14% secara nasional, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan integratif. Program-program ini harus mencakup penyuluhan yang lebih intensif tentang pentingnya gizi seimbang, terutama bagi ibu-ibu di pedesaan. Penyediaan makanan tambahan untuk balita dan peningkatan pendidikan gizi bagi keluarga-keluarga petani juga menjadi langkah yang krusial.

Baca Juga: Dari Forum WCIT 2024 : Jusuf Kalla Ajak Mengakhiri Konflik di Negara-negara Islam

Pengetahuan ibu tentang nutrisi harus ditingkatkan agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memberikan makanan untuk anak-anak mereka. Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa intervensi kesehatan dilakukan secara merata di seluruh daerah, terutama di wilayah pedesaan yang masih banyak tertinggal dalam hal akses terhadap layanan kesehatan.

Stunting adalah ancaman serius bagi masa depan anak-anak di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan seperti Ogan Ilir. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak-anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan daya saing mereka di masa depan. Dengan upaya terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai sektor terkait, diharapkan masalah stunting dapat segera diatasi, dan generasi mendatang dapat tumbuh dengan sehat dan kuat.

Namun, ini bukan hanya soal kebijakan dan program. Ini juga soal perubahan perilaku, peningkatan kesadaran, dan kesediaan untuk merombak kebiasaan lama yang sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman. Perjuangan melawan stunting adalah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia.(*)


*) Oleh: Nico Syah Putra, mahasiswa program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

 

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

UGM Raih Pendanaan Riset PKM Terbanyak Nasional

Selasa, 2 Juni 2026 | 19:42 WIB
X