Dari sini kita paham, bahwa orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah Islam tidak sekadar mengikuti tren, tapi sesungguhnya sedang berusaha mewariskan iman dan akhlak untuk generasi selanjutnya. Agar Islam tidak terputus, tidak hanya menjadi sejarah, tapi tetap hidup dalam perilaku dan pemikiran anak-anak kita.
Melindungi Anak dari Gelombang Peradaban Sekular
Di tengah derasnya arus liberalisme dan materialisme yang ditawarkan budaya Barat, pendidikan Islam menjadi benteng terakhir yang dapat menyelamatkan anak-anak dari kehilangan arah hidup. Pendidikan Islam memberi anak filter moral, kemampuan memilah dan menilai, serta keberanian untuk mempertahankan kebenaran di tengah tekanan zaman.
Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menjadi dasar utama mengapa tanggung jawab pendidikan anak tidak boleh diserahkan seluruhnya kepada sekolah. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah guru utama.
Baca Juga: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, Seluruh Objek Wisata di Kota Bengkulu Dilakukan Penataan
Keluarga: Madrasah Pertama yang Paling Berpengaruh
Pendidikan pertama dan utama bagi anak dimulai dari keluarga. Di sanalah anak mengenal cinta, kejujuran, tanggung jawab, dan nilai-nilai ibadah. Bukan hanya sekadar tempat tinggal, rumah adalah ladang subur untuk menanamkan keimanan.
Motivasi keluarga dalam mendidik anak berbeda dengan lembaga pendidikan formal. Di keluarga, anak dibesarkan bukan karena kewajiban profesi, tetapi karena cinta dan amanah. Karena itulah, pendidikan keluarga lebih personal, menyentuh, dan bertahan lebih lama dalam jiwa anak.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: JK : Ekonomi Islam Tidak Boleh Monopoli dan Spekulatif
Orang tua adalah role model utama. Bila orang tua jujur, sabar, tekun beribadah, maka anak pun akan meniru. Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling kuat. Anak-anak belajar bukan hanya dari ucapan, tapi dari penglihatan dan pengalaman.
Allah Swt. berfirman: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus lebih baik di sisi Tuhanmu sebagai pahala dan harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)
Melatih Anak dengan Praktik Islam Sejak Dini
Pendidikan agama dalam keluarga harus dimulai sejak dini. Mulai dari membiasakan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, menutup aurat, hingga adab dalam berinteraksi. Jangan tunda sampai remaja, karena hati anak seperti tanah kosong yang mudah dibentuk.
Artikel Terkait
Bazma Pertamina Patra Niaga JBT Berbagi di Momen Tahun Baru Islam, Santuni Puluhan Anak Yatim di Semarang
Dari Forum WCIT 2024 : Jusuf Kalla Ajak Mengakhiri Konflik di Negara-negara Islam
Teror Ledakan Pager di Lebanon Menandakan Umat Islam Tertinggal Teknologi
Indonesia dan Mesir Miliki Kesamaan Memandang Islam Moderat dan Junjung Tinggi Toleransi
Prabowo Minta kepada Mahasiswa RI di Al Azhar Kairo untuk Belajar Islam yang Sejuk
Pemprov Bengkulu dan PMII Bahas Penguatan Peran Mahasiswa Islam
Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Prabowo: Dunia Islam Harus Bangkit Bersatu, Bukan Sekadar Jadi Penonton Global
JK : Ekonomi Islam Tidak Boleh Monopoli dan Spekulatif
Dewan Masjid dan Tiga Kementerian Kerja Sama Wujudkan Kehidupan Ekonomi dan Sosial Umat Islam.