Oleh : Bram Hertasning dan Sindu Rahayu
Masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran maupun merayakan Hari Raya Nyepi di Bali perlu meningkatkan kewaspadaan karena arus lalu lintas menuju Pelabuhan Gilimanuk diperkirakan mengalami kepadatan yang signifikan.Baca Juga: Kapolda Jateng Cek Posko Terpadu GT Kalikangkung, Pastikan Kesiapan Pengamanan Arus Mudik
Pelabuhan ini merupakan pintu utama penyeberangan antara Pulau Jawa dan Bali melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk, sehingga setiap peningkatan mobilitas masyarakat pada periode hari besar keagamaan hampir selalu berdampak langsung pada lonjakan volume kendaraan menuju kawasan Pelabuhan.
Kepadatan tersebut juga dipengaruhi oleh berdekatannya waktu perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri pada tahun 2025 dan 2026. Berdasarkan kalender nasional, Nyepi pada tahun 2025 jatuh pada 29 Maret 2025 dan Idul Fitri diperkirakan pada 31 Maret 2025.Baca Juga: Kompolnas dan Itwasum Polri Pantau Operasi Ketupat Candi 2026
Pola yang hampir sama terjadi pada tahun 2026, ketika Nyepi jatuh pada 19 Maret 2026 dan Idul Fitri diperkirakan pada 21 Maret 2026. Kedekatan waktu dua hari raya besar ini berpotensi memicu lonjakan mobilitas masyarakat secara bersamaan, baik masyarakat yang melakukan mudik Lebaran maupun masyarakat yang hendak keluar dari Bali sebelum pelaksanaan Nyepi.
Lonjakan mobilitas tersebut biasanya terjadi karena masyarakat berupaya menyeberang sebelum operasional penyeberangan dihentikan sementara untuk menghormati pelaksanaan Hari Raya Nyepi.Baca Juga: Arus dari Jakarta Dominasi GT Kalikangkung, 33 Ribu Kendaraan Masuk Semarang
Penutupan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang – Gilimanuk umumnya dilakukan mulai satu hari sebelum Nyepi hingga sehari setelah pelaksanaan Nyepi, sehingga masyarakat cenderung melakukan perjalanan lebih awal sebelum penutupan diberlakukan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan volume kendaraan menuju pelabuhan dalam waktu yang relatif singkat.
Selain faktor momentum hari raya, kepadatan di kawasan Gilimanuk juga berkaitan dengan ketidakseimbangan antara permintaan perjalanan dengan kapasitas layanan penyeberangan yang tersedia.Baca Juga: Valet Ride Polda Jateng Jadi Solusi Mudik Nyaman, Bocah Pemudik Tertidur Nyenyak di Pos Brebes
Dalam perspektif transportasi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep supply and demand, di mana peningkatan permintaan perjalanan yang tidak diimbangi oleh peningkatan kapasitas layanan akan memunculkan antrean dan waktu tunggu yang lebih panjang bagi pengguna jasa transportasi (Rodrigue, 2020; Ortúzar & Willumsen, 2011).
Data operasional penyeberangan menunjukkan bahwa jumlah armada kapal di lintasan Ketapang – Gilimanuk terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi jumlah kapal maupun kapasitas muat kendaraan. Namun peningkatan armada tersebut tidak selalu diikuti dengan penambahan kapasitas dermaga secara seimbang.Baca Juga: Tiga Hari Pasca Posko Dibuka, Trafik Penumpang Bandara Ahmad Yani Semarang Melonjak 31 Persen
Dalam sistem penyeberangan, dermaga merupakan elemen krusial yang menentukan kecepatan proses bongkar muat kendaraan. Ketika jumlah dermaga terbatas, kapal harus bergantian sandar sehingga dermaga dapat menjadi titik bottleneck dalam layanan penyeberangan.
Kondisi tersebut berdampak tidak hanya pada kapal yang harus menunggu giliran sandar di perairan pelabuhan, tetapi juga pada kendaraan yang menunggu proses muat.Baca Juga: PMI Dirikan 456 Pos Siaga Lebaran, Kerahkan 6.905 Personil Menyambut arus mudik dan balik Idulfitri
Antrean kendaraan bahkan dapat meluas hingga ke jalan nasional menuju pelabuhan, sehingga pada periode puncak kepadatan ruas jalan menuju pelabuhan sering berfungsi sebagai area parkir sementara bagi kendaraan yang menunggu giliran masuk ke kawasan pelabuhan.
Situasi tersebut tercermin pada kondisi terkini di Pelabuhan Gilimanuk, di mana antrean kendaraan menuju pelabuhan terpantau padat dengan dominasi kendaraan roda dua dan roda empat yang akan menyeberang ke Pulau Jawa.Baca Juga: SPPG Purworejo Protes Juknis MBG Mendadak, Sebut Perencanaan Menu Jadi Berantakan
Kepadatan dipicu oleh peningkatan volume kendaraan dalam waktu bersamaan serta keterbatasan kapasitas layanan penyeberangan, termasuk proses bongkar muat kapal yang memerlukan waktu tertentu (detik.com, 2026).