Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Kemacetan panjang yang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius sejumlah pihak. Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mencapai puluhan kilometer akibat meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Nyepi yang beririsan dengan arus mudik Idulfitri.Baca Juga: ICCN Luncurkan E-Book “Retrospektif Kota Kreatif”, Rekam Jejak Inovasi Kota di Indonesia
Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP), Khoiri Soetomo, menilai kemacetan tersebut tidak hanya dipicu lonjakan kendaraan, tetapi juga mengindikasikan persoalan struktural dalam sistem transportasi penyeberangan nasional.
Menurutnya, pada periode ini terjadi pertemuan dua arus mobilitas besar secara bersamaan, yakni arus mudik Lebaran serta pergerakan masyarakat keluar dari Bali menjelang pelaksanaan Nyepi. Kondisi tersebut membuat volume kendaraan meningkat tajam dalam waktu yang hampir bersamaan.Baca Juga: Jelang Lebaran, Pertamina Jateng-DIY Gelontorkan 9 Juta Tabung LPG 3 Kg Tambahan
Namun demikian, kemacetan panjang yang terjadi juga menunjukkan bahwa sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan belum tertata secara optimal.
“Masalah utama bukan hanya lonjakan kendaraan, tetapi juga belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan ke pelabuhan serta belum seimbangnya pertambahan armada kapal dengan pembangunan dermaga, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kapasitas,” ujar Khoiri.Baca Juga: Gelar SEBARAN 5.0, Membahagiakan Anak Yatim, Belanja Baju Lebaran
Ia menjelaskan, moda transportasi penyeberangan hingga kini masih tergolong sangat terbuka dibandingkan moda transportasi lainnya. Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan meskipun belum memiliki tiket atau kode pemesanan.
Akibatnya, kendaraan datang secara bersamaan dalam jumlah besar tanpa pengaturan waktu yang jelas. Kondisi ini membuat pelabuhan kesulitan mengendalikan arus kendaraan dari hulu.Baca Juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur jalan yang semakin baik, termasuk jaringan jalan tol, turut mempercepat arus kendaraan menuju pelabuhan. Namun peningkatan kapasitas dermaga sebagai kelanjutan dari sistem transportasi tersebut belum berkembang secara seimbang.
“Jalan tol mempercepat kendaraan menuju pelabuhan, tetapi kapasitas dermaga belum bertambah secara seimbang. Ketika dermaga menjadi titik sempit, antrean kendaraan tidak terelakkan dan jalan menuju pelabuhan berubah menjadi ruang parkir kendaraan,” jelasnya.Baca Juga: Pertamina Pastikan Kesiapan Avtur di AFT Hasanuddin Jelang Arus Mudik Lebaran
Khoiri menegaskan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius agar tidak terus berulang setiap tahun.
“Jika dermaga tidak bertambah, jalan menuju pelabuhan akan selalu menjadi parkiran,” tegasnya.
Untuk itu, GAPASDAP mendorong sejumlah langkah pembenahan sistemik, antara lain penambahan kapasitas dermaga, penataan sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan, penerapan kewajiban tiket atau kode pemesanan sebelum kendaraan menuju pelabuhan, serta penyediaan buffer zone atau area penyangga kendaraan sebelum memasuki kawasan pelabuhan.Baca Juga: Bosowa Foundation buat Gebrakan di Kalimantan Utara, Bangun Rumah Sakit hingga Sekolah Bertaraf Internasional
Selain itu, integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan dan pengembangan kapasitas pelabuhan juga dinilai penting agar sistem transportasi penyeberangan dapat berjalan lebih seimbang dan efisien.
Artikel Terkait
Tambah Kapal Bukan Solusi, Gapasdap Dorong Pembangunan Dermaga di Ketapang–Gilimanuk
GAPASDAP Bongkar Akar Macet Merak–Bakauheni: Bukan Kurang Kapal, Tapi Dermaga Tak Memadai
GAPASDAP Nilai Penataan Merak–Bakauheni Ciptakan Kelancaran Semu, Minta Presiden Turun Tangan Benahi Penyeberangan Nasional
Dermaga Kurang, Kapal Menganggur! Gapasdap Soroti Akar Macetnya Penyeberangan Merak–Bakauheni
Feri Banyak Tapi Dermaga Terbatas, GAPASDAP Soroti Tantangan Operasional Angkutan Lebaran