Trump dan Perdamaian Gaza

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Selasa, 21 Oktober 2025 | 16:37 WIB
Ali Lubis
Ali Lubis

 

Oleh: Ali.A. Lubis

 

Donald Trump akhirnya menunaikan salah satu janji kampanyenya pada saat Pilpres Amerika tahun 2024 yang lalu yakni “ menghentikan perang di gaza “ setelah melalui waktu yang cukup panjang dan menelan korban dan paling banyak dialami oleh warga Palestina yakni lebih 67.000 orang meninggal dunia, 169.000 orang luka-luka dan ribuan orang mengungsi. Di pihak Israel menelan korban 1.200 orang meninggal dunia , 251 orang ditawan dan 888 tentara tewas .

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh Trump pada 29 September lalu meliputi pembebasan semua tawanan Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina dipenjara-penjara Israel serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza ( bengkuluantaranews.com.14 Oktober 2025 ).

Pengumuman gencatan senjata tersebut ditindak lanjuti dengan Konferensi Tingkat Tinggi ( KTT ) Perdamaian Gaza yang diadakan di Sharm El-Sheikh, Mesir pada Senin : 13 Oktober 2025 yang dihadiri oleh 27 pemimpin negara serta sejumlah perwakilan internasional ikut diundang menghadiri pertemuan tersebut. Dari pertemuan ini lahir sebuah deklarasi bersama yang ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin Timur Tengah.

Baca Juga: Banjir Menerjang Tor Atas: Polsek Sarmi Berjuang Selamatkan Warga

Antara lain Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, , Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamald Al Thani Presiden Turky Recep Tayip Erdogan dan Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto turut menyaksikan secara langsung penandatanganan deklarasi tersebut. Deklarasi tersebut dikenal dengan “ Trump Declaration For Enduring Peace and Properity “ ( Deklarasi Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Abadi ) dan dengan genjata senjata serta penanda tanganan deklarasi ini, bantuan kemanusiaan yang telah bersiaga di Rafah ( perbatasan Mesir-Israel ) segera bisa masuk ke Jalur Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan yang apabila semakin lambat akan memperparah dampak kelaparan bagi warga Palestina di Gaza yang sudah lama menderita .

Akan tetapi dunia masih khawatir apakah implementasi perdamaian tersebut dapat dijalankan secara konsisten oleh kedua belah pihak, dimana dalam beberapa hari ini masih terdengar berita tentang pelanggaran gencatan senjata yang diklaim oleh masing-masing pihak baik otoritas Israel maupun oleh Kelompok Hamas. Agak disayangkan setelah Konferensi Tingkat Tinggi ( KTT ) yang menghasilkan deklarasi perdamaian dan tercapainya gencatan senjata yang disepakati oleh kedua pihak, tidak langsung ditindak lanjuti dengan pembentukan pasukan pemelihara perdamaian oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan konsistensi gencatan senjata ini sangat rapuh dan tidak efektif jika tidak ada pihak ketiga yang netral yang berdiri di ditengah kedua belah pihak.

Baca Juga: Jejak Mande Ilang dan Lahirnya Mandailing ( Bagian I )

Mudah mudahan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa berpacu dengan waktu, segera bersidang untuk menindak lanjuti pembentukan pasukan pemelihara perdamaian agar korban yang tidak berdosa bertambah lagi. Jika Dewan Kemanann PBB memutuskan pembentukan Pasukan Pemelihara Perdamaian di Gaza, Indonesia sebagai salah satu negara anggota OKI yang aktif mendukung perdamaian dan kemerdekaan Palestina, telah siap mengirimkan 20.000 pasukan ( htpps ://Indonesia.go.id.24 September 2025 ).

Kedepan Kewibawaan Donald Trump sebagai salah satu insiator perdamaian akan diuji , apakah Trump dipercaya oleh Kelompok Hamas dapat meredam nafsu perang Netanyahu dan pendukunganya atau Netanyahu tetap meneruskan perang ( genosida ) ini untuk menolak berdirinya Negara Palestina yang berdaulat serta memasukkan agenda penolakan kemerdekaan Palestina sebagai Visi Misinya pada saat kampanye ketika ia mencalonkan diri lagi sebagai Perdana Menteri Israel pada Pemilu Parlemen yang akan diselenggarakan pada November 2026 nanti. ( sindonews,com. Minggu 19 Oktober 2025 ).

Baca Juga: Pertamina Dukung One Day Trail Troff Hasanuddin Jelajah Butta Pangrannuangku

Pada tahun 2020 yang lalu, tepatnya pada tanggal 15 September 2020 di Gedung Putih, Washinton DC, AS yang dimediasi oleh Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, tercapai perjanjian normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa Negara Arab, dimulai dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain yang dikenal dengan Abraham Accord ( Kesepakatan Abraham ). ( cnbcindonesia.com, Jum’at 15/0722 ).

Selain menciptakan sejarah baru , jika perdamaian abadi Israel-Palestina ini terwujud , faktor instabilitas di kawasan Timur Tengah akan berkurang, dan momentum “ perdamaian “ ini akan menjadi roda penggerak normalisasi hubungan diplomatik antara negara-negara Arab dengan Israel “ untuk perdamaian dan kemakmuran abadi “ sesuai dengan slogan KTT Perdamaian Gaza.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X