Nasi, Tiga Anggur, dan Cita-Cita Bangsa

Photo Author
Redaksi, Suara Pembaruan
- Sabtu, 23 Agustus 2025 | 08:56 WIB
Sri Hartono (dok.pri)
Sri Hartono (dok.pri)

Oleh : Hartono Sri Danan Djoyo

Berita bahwa sekolah dimana dia mengajar mendapat jatah MBG (makan bergizi gratis) membuat Wisnu (bukan nama sebenarnya) berdebar. Silih berganti berita yang beredar membuatnya bertanya “Seperti apa makan yang akan murid-muridnya terima?” Selasa, 21 Agustus 2025 penasaran Wisnu terjawab. Beberapa mobil pembawa makanan bergizi memasuki halaman sekolah.

Apa yang dipaket “makanan sehat bergizi” hadir dalam sebuah baki logam. Wisnu membuka matanya lebar, mencari jawab: apakah yang diterimakan untuk murid-muridnya sebuah “kompromi manis” janji politis ataukah komitmen berintergritas dari pemimpin untuk memperbaiki asa bangsa.

Wisnu butuh waktu lama mengamati; ia dalam keraguan. Setelah tidak kurang dari waktu yang dibutuhkan jarum menit arloji melakukan satu kali putaran, ia akhirnya sampai pada kesimpulan. Bahwa baki logam yang diterimakan untuk para muridnya bukan wadah biasa; melainkan panggung kecil yang menampilkan drama janji yang jauh dari sampai, niat yang terhenti di tengah jalan, dan keseriusan yang belum lolos uji.

Wisnu berpendapat bahwa menu yang tersaji merupakan cermin dari visi pemimpin bangsa yang mendambakan generasi unggul, namun entah karena lupa atau sebab lain, gagal paham bahwa pondasi kecerdasan dan kekuatan itu dimulai dari piring makan. Baki logam itu tak lebih dari draf kasar sebuah cita-cita luhur, yang masih perlu revisi besar-besaran. Barkali Wisnu mengusap mata, isi baki itu tidak berubah – nasi, sedikit tahu, sayur sawi pucat, dan tiga butir anggur.

Raja Kurang Pasukan

Gumpalan nasi putih teronggok di tengah, namun berdiri sendiri. Jika dibuat metafora ia seorang raja namun tidak memiliki pasukan. Porsinya sangat dominan, terlalu banyak, rawan dicurigai bahwa seolah karbohidrat merupakan bahan bakar andalan untuk membangun peradaban. Karenam tampil menguasai panggung, dia harus ikhlas disangka bahwa kenyang fisik adalah tujuan akhir, bukan nutrisi yang seimbang.

Raja yang sendirian ini rapuh. Tanpa didukung oleh prajurit yang kokoh, energi yang dimilikinya cepat terkuras dan membuat empunya merasa lemas. Siswa-siswa akan mengalami defisit kekuatan untuk memerintah otak fokus. Komponen nutrisi seperti vitamin, mineral, dan protein mutlak hadir seputar sang raja. Porsi nasi yang sedemikian besarnya tidak bisa mengoreksi kemampuan sebagian “emak” siswa hanya baru mampu menyajikan nasi sebagai menu utama. Revisi pertama Wisnu terhadap MBG adalah bagaimana menguruskan ukuran nasi dan menggantinya dengan komponen nutrusi lain untuk menjadi faktor efektif pendongkrak
produktivitas.

Tiga Anggur Kesepian

Tiga butir anggur mungil warna merah maron hadir kesepian disamping raja. Pesan yang ditangkap oleh Wisnu adalah bahwa mereka menggantikan semangat buah ukuran semangkuk penuh. Yang Wisnu lihat belum cukup menjadi sumber antioksidan atau vitamin. Mereka harus ditambah jumlah dan variannya agar tidak sekedar menjadi hiasan. Kehadiran mereka harus berkata, "Kami tahu buah itu penting," dosis dan variannya harus cukup dan harus berdampak bagi kesehatan.
Buah harus memberi pencitraan yang paling jujur: menampilkan niat baik di permukaan dan di dalam misinya yang tidak kasat mata. MBG harus mengajari para siswa bahwa makan buah itu penting untuk perlindungan dan vitalitas diri mereka. Kesimpulan revisi yang diusulkan Wisnu adalah bahwa tiga butir anggur terlalu minim untuk disebut cukup. Jumlah dan variannya harus
diperbanyak.

Sayur Pucat Pengakuan

Di belahan baki lain, sayur rebus menampakkan warna pucat. Warnanya lebih mirip pengakuan setengah hati atas pentingnya serat daripada penyemarak gizi. Sayuran seharusnya hadir dalam palet warna yang cerah dan beragam. Wisnu berfikir bahwa kilau warna baki kian indah kala berbaur dengan warna merah dari tomat, oranye dari wortel, dan hijau gelap dari brokoli.

Setiap warna adalah tanda dari nutrisi yang berbeda. Mereka yang indah akan mampu membujuk anak untuk gemar mengonsumsinya. Namun, sayur pucat dalam baki itu justru menguatkan kesan bahwa makan sayur merupakan tugas tidak menarik seperti halnya tugas LKS, bukan wisata selera yang tubuh kuku, kulit, dan mata indah mereka semakin bersinar.

Sayur dalam baki tidak boleh menjadi representasi visual bagaimana kita abai memandang kesehatan. Menjaga kesehatan bukan merupakan kewajiban yang memberatkan melainkan sebagai investasi yang menguntungkan. Negara harus memagari kuat pola makan anak-anak untuk tumbuh sebagai generasi yang sehat, bukan sebagai generasi yang tumbuh stunting karena pengakuan setengah hati terhadap pentingnya gizi.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X