Indonesia Harus Melangkah Maju, Bukan Terjebak dalam Perseteruan

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Senin, 16 Juni 2025 | 15:08 WIB
Drs. H. Bangun Lubis, M.Si
Drs. H. Bangun Lubis, M.Si

 

Oleh: Bangun Lubis

Indonesia hari ini berada pada titik penting dalam sejarahnya. Sebuah persimpangan: apakah kita ingin terus terjebak dalam lingkaran konflik, perseteruan elit, saling menyalahkan, dan politik pecah-belah? Ataukah kita ingin melangkah ke depan, membangun negeri ini dengan kerja nyata, etika, dan keberanian moral?

Belakangan ini, masyarakat kita semakin jenuh. Di layar kaca dan media sosial, yang muncul adalah saling serang, fitnah, debat kusir, dan berita tentang korupsi serta kebohongan publik yang menyakitkan nurani rakyat. Padahal di luar sana, banyak negara justru sibuk membangun: memperkuat ekonomi, mengembangkan budaya, dan menjaga identitas bangsa mereka dengan tenang namun pasti.

Lantas, mengapa kita masih berkutat pada hal-hal yang justru memperlemah bangsa sendiri?

Baca Juga: Iran Gempur Israel: Fasilitas Strategis Hancur, Ketegangan Kawasan Memuncak

Saatnya Negara Tegas: Hukum Ditegakkan, Moral Dijunjung

Negara tidak boleh tunduk pada tekanan kelompok atau paham sempit yang bertentangan dengan cita-cita bangsa. Jika ada korupsi — tangkap, adili, dan penjarakan. Jika ada kebohongan publik — usut tuntas dan beri hukuman setimpal. Tegas. Tidak pandang bulu. Karena jika hukum hanya berlaku untuk yang lemah, maka keadilan telah mati di negeri ini.

Ekonom dan akademisi seperti Yuyu Wahyu dari UIN Bandung menegaskan:

“Jika masih ada niat untuk korupsi di hati para pihak, maka korupsi tetap saja akan terjadi. Penegakan hukum harus disertai dengan perubahan sistem dan mentalitas penegak hukum.”

Sebuah pandangan yang menggarisbawahi bahwa pemberantasan korupsi bukan sekadar soal penangkapan, tapi juga soal menata ulang kesadaran kolektif — bahwa korupsi adalah kejahatan terhadap masa depan anak cucu kita.

Baca Juga: Wali Kota Bengkulu Ingatkan Pedagang Pantai Panjang Dilarang Paksa Pengunjung Belanja Jajanan

Belajar dari Para Negarawan dan Budayawan Bangsa

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:

“Berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.”

Inilah prinsip Trisakti — fondasi besar untuk membangun Indonesia yang mandiri dan bermartabat. Sayangnya, hari ini kita justru cenderung kehilangan arah. Kebijakan kita banyak dipengaruhi tekanan politik dan kepentingan sesaat. Padahal, jika kita benar-benar ingin menjadi bangsa besar, maka arah pembangunan harus kembali pada nilai-nilai luhur dan jatidiri bangsa.

Budayawan sekaligus negarawan besar seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pernah mengingatkan:

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X