Oleh: Bangun Lubis
Indonesia hari ini berada pada titik penting dalam sejarahnya. Sebuah persimpangan: apakah kita ingin terus terjebak dalam lingkaran konflik, perseteruan elit, saling menyalahkan, dan politik pecah-belah? Ataukah kita ingin melangkah ke depan, membangun negeri ini dengan kerja nyata, etika, dan keberanian moral?
Belakangan ini, masyarakat kita semakin jenuh. Di layar kaca dan media sosial, yang muncul adalah saling serang, fitnah, debat kusir, dan berita tentang korupsi serta kebohongan publik yang menyakitkan nurani rakyat. Padahal di luar sana, banyak negara justru sibuk membangun: memperkuat ekonomi, mengembangkan budaya, dan menjaga identitas bangsa mereka dengan tenang namun pasti.
Lantas, mengapa kita masih berkutat pada hal-hal yang justru memperlemah bangsa sendiri?
Baca Juga: Iran Gempur Israel: Fasilitas Strategis Hancur, Ketegangan Kawasan Memuncak
Saatnya Negara Tegas: Hukum Ditegakkan, Moral Dijunjung
Negara tidak boleh tunduk pada tekanan kelompok atau paham sempit yang bertentangan dengan cita-cita bangsa. Jika ada korupsi — tangkap, adili, dan penjarakan. Jika ada kebohongan publik — usut tuntas dan beri hukuman setimpal. Tegas. Tidak pandang bulu. Karena jika hukum hanya berlaku untuk yang lemah, maka keadilan telah mati di negeri ini.
Ekonom dan akademisi seperti Yuyu Wahyu dari UIN Bandung menegaskan:
“Jika masih ada niat untuk korupsi di hati para pihak, maka korupsi tetap saja akan terjadi. Penegakan hukum harus disertai dengan perubahan sistem dan mentalitas penegak hukum.”
Sebuah pandangan yang menggarisbawahi bahwa pemberantasan korupsi bukan sekadar soal penangkapan, tapi juga soal menata ulang kesadaran kolektif — bahwa korupsi adalah kejahatan terhadap masa depan anak cucu kita.
Baca Juga: Wali Kota Bengkulu Ingatkan Pedagang Pantai Panjang Dilarang Paksa Pengunjung Belanja Jajanan
Belajar dari Para Negarawan dan Budayawan Bangsa
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:
“Berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.”
Inilah prinsip Trisakti — fondasi besar untuk membangun Indonesia yang mandiri dan bermartabat. Sayangnya, hari ini kita justru cenderung kehilangan arah. Kebijakan kita banyak dipengaruhi tekanan politik dan kepentingan sesaat. Padahal, jika kita benar-benar ingin menjadi bangsa besar, maka arah pembangunan harus kembali pada nilai-nilai luhur dan jatidiri bangsa.
Budayawan sekaligus negarawan besar seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga pernah mengingatkan:
Artikel Terkait
Wali Kota Bengkulu Ingatkan Pedagang Pantai Panjang Dilarang Paksa Pengunjung Belanja Jajanan
Petugas Dinkes Kaur Temukan Puluhan Warga Terjangkit TBC
Iran Gempur Israel: Fasilitas Strategis Hancur, Ketegangan Kawasan Memuncak
Teror Berdarah di Villa Mewah Bali: Turis Australia Tewas, Polisi Buru Pelaku Bersenjata
MUI Kecam Agresi Israel ke Teheran, Desak Dunia Internasional Tegakkan Keadilan Global
Menelusuri Kuliner Palembang - Ngirup Cuko: Gurihnya Tradisi, Mantapnya Cita Rasa
Pesan Terakhir Seorang Ibu: Warisan Nasihat Sehat dari Gustiwiw untuk Kita Semua
Diplomasi Seribu Teman: Prabowo Diundang Putin, Maruarar Soroti Prinsip Politik Damai
Resmi Menikah, Al Ghazali dan Alyssa Daguise Gelar Akad Penuh Kehangatan di Tengah Keluarga
Wagub Jateng Taj Yasin Bantah Tolak Dr Zakir Naik Datang ke Indonesia