Diplomasi Seribu Teman: Prabowo Diundang Putin, Maruarar Soroti Prinsip Politik Damai

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 16 Juni 2025 | 12:10 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto (kiri) dan Menteri PKP, Maruarar Sirait (kanan). (Instagram.com/@maruararsirait)
Presiden RI, Prabowo Subianto (kiri) dan Menteri PKP, Maruarar Sirait (kanan). (Instagram.com/@maruararsirait)


Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Rusia pada 18 hingga 20 Juni 2025 atas undangan langsung dari Presiden Vladimir Putin. Selama kunjungannya, Prabowo akan menghadiri acara bergengsi Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menyambut positif undangan tersebut sebagai bukti kepercayaan besar yang diberikan dunia internasional kepada Prabowo. Ia menilai, kehadiran Prabowo di forum ekonomi dunia itu mencerminkan pengakuan global atas kewibawaan pemimpin Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwa Pak Prabowo mendapatkan kepercayaan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri," ujar Maruarar dalam keterangannya kepada media, Senin, 16 Juni 2025.

Maruarar kemudian menyinggung gaya politik inklusif yang dianut Prabowo. Ia menyebut Prabowo konsisten dengan prinsip bahwa menjalin sebanyak mungkin hubungan baik adalah kunci dalam membangun kekuatan nasional maupun diplomasi internasional.

"Prinsip beliau itu jelas: satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Karena itulah beliau merangkul banyak tokoh nasional seperti Pak Jokowi dan Pak SBY," kata Maruarar.

Prinsip ini juga pernah ditegaskan Prabowo saat menyampaikan pidato dalam Antalya Diplomacy Forum (ADF) 2025 di Turki. Menurutnya, filosofi sederhana ini menjadi pegangan kuat dalam pendekatannya membangun hubungan antarnasional.

"Seribu teman terlalu sedikit. Satu musuh terlalu banyak. Kalimat ini mudah diucapkan, tapi sulit dijalankan," ucap Prabowo kala itu.

Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan bahwa filosofi ini turut menjadi fondasi kuat bagi perdamaian di Asia Tenggara, terutama dalam kerangka kerja sama ASEAN. Menurutnya, semangat dialog dan diplomasi yang diusung ASEAN telah menjadi model penyelesaian konflik yang patut diteladani.

"Kita memang berbeda, tapi kita memilih berdiplomasi. Kita terus berbicara meski terkadang membosankan. Tapi lebih baik berbicara daripada berkonflik," pungkasnya.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X