SUARA PEMBARUAN, Palembang — Ibukota Sumatera Selatan ini tak hanya dikenal lewat sejarah Kerajaan Sriwijaya dan ikon Jembatan Ampera. Palembang juga punya satu kekuatan besar yang terus melekat di lidah siapa pun yang pernah singgah: kuliner yang menggoda dan penuh warisan budaya.
Di tengah arus modernisasi kota, aroma pempek yang digoreng hangat dan kuah cuko yang tajam masih menjadi penanda identitas. Namun kuliner Palembang bukan hanya soal pempek. Dari sajian kari santan untuk sarapan hingga minuman manis penutup siang hari, Palembang menawarkan pengalaman rasa yang lengkap — dari gurih, asam, pedas hingga manis.
Pempek dan Cuko: Simbol Rasa Palembang
Siapa pun yang datang ke Palembang pasti ingin mencicipi pempek. Makanan olahan ikan dan sagu ini sudah menjadi duta kuliner Palembang ke seluruh Indonesia. Ada pempek kapal selam yang diisi telur ayam, pempek lenjer, kulit, hingga adaan yang berbentuk bulat kecil dengan aroma rempah menggoda.
Semua jenis pempek itu disantap bersama cuko, kuah khas yang dibuat dari gula batok, cuka, cabai rawit, dan bawang putih. Rasanya unik — perpaduan antara manis, asam, dan pedas — yang sulit ditemukan di kuliner daerah lain.
“Rasa cuko itu khas. Sekali suka, pasti rindu,” ujar Bu Rina, penjual pempek generasi kedua di kawasan 26 Ilir.
Baca Juga: MUI Kecam Agresi Israel ke Teheran, Desak Dunia Internasional Tegakkan Keadilan Global
Sarapan Kari: Laksan dan Celimpungan
Tak banyak yang tahu bahwa Palembang punya hidangan sarapan berbahan dasar pempek juga. Laksan dan celimpungan adalah dua jenis makanan yang disiram kuah santan kental bercitarasa kari.
Laksan dibuat dari pempek lenjer yang dipotong-potong dan dimasak dengan kuah kuning lembut. Sementara celimpungan menggunakan pempek bulat pipih dan kuah yang lebih kaya rempah. Keduanya biasa disantap pagi hari dengan taburan bawang goreng dan kerupuk kuning sebagai pelengkap.
Baca Juga: Iran Gempur Israel: Fasilitas Strategis Hancur, Ketegangan Kawasan Memuncak
Pindang Patin: Kuah Segar dari Sungai Musi
Jika pempek adalah makanan ringan, maka pindang patin adalah hidangan berat yang menjadi andalan rumah makan khas Palembang. Ikan patin segar dimasak dalam kuah bening dengan potongan nanas, tomat, daun kemangi, dan cabai merah. Rasanya segar, gurih, dan sedikit pedas — sangat cocok disantap hangat bersama nasi putih.
“Kami memasak pindang tanpa santan, tapi kaya rasa karena bahan alami,” jelas Pak Iskandar, pemilik warung Pindang Meranjat di kawasan Jakabaring.
Tempoyak: Kenekatan yang Membuat Ketagihan
Salah satu makanan khas yang menjadi bahan perdebatan adalah tempoyak — hasil fermentasi durian yang diasinkan. Bagi sebagian orang, aroma tempoyak bisa terasa menyengat. Namun di tangan orang Palembang, tempoyak bisa diolah menjadi sambal yang menggugah selera, terutama jika disajikan dengan ikan baung atau lele goreng.
“Kalau sudah terbiasa, makan tempoyak bisa bikin ketagihan,” ujar Rendi, warga asli Palembang.
Baca Juga: Teror Berdarah di Villa Mewah Bali: Turis Australia Tewas, Polisi Buru Pelaku Bersenjata
Artikel Terkait
Firman Soebagyo: Cabut Izin Tambang Nikel di Raja Ampat Harus Adil, Jangan Tebang Pilih!
Kebutuhan Darah di Kota Bengkulu Rata-Rata 1.500 Kantong Setiap Bulan
Hangatnya Sambutan Siswa Indonesia di Singapura untuk Presiden Prabowo: Simbol Cinta Tanah Air di Negeri Seberang
Penuhi Undangan Vladimir Putin, Presiden Prabowo Lakukan Kunjungan Strategis ke Rusia Usai Hadiri Forum Bilateral di Singapura
Suhu Ekstrem Capai 47°C di Tanah Suci, Jemaah Haji Diminta Waspadai Gejala Sakit dan Segera Periksa Kesehatan
Wali Kota Bengkulu Ingatkan Pedagang Pantai Panjang Dilarang Paksa Pengunjung Belanja Jajanan
Petugas Dinkes Kaur Temukan Puluhan Warga Terjangkit TBC
Iran Gempur Israel: Fasilitas Strategis Hancur, Ketegangan Kawasan Memuncak
Teror Berdarah di Villa Mewah Bali: Turis Australia Tewas, Polisi Buru Pelaku Bersenjata
MUI Kecam Agresi Israel ke Teheran, Desak Dunia Internasional Tegakkan Keadilan Global