Jogja Hanyengkuyung Sumatra: Solidaritas Musik di Stadion Maguwoharjo

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Rabu, 24 Desember 2025 | 00:17 WIB
Jogja HanyengkuyungSumatra
Jogja HanyengkuyungSumatra


Yogyakara, SUARA PEMBARUAN — Ditengah hujan rintik yang datang dan pergi, pada Selasa malam, 23 Desember 2025, di Stadion Maguwoharjo ribuan penonton dengan antusias mendukung dalam konser amal Jogja Hanyengkuyung Sumatra. Latar panggung yang megah berpadu dengan lautan penonton berpakaian putih, menjadikan suasana penuh simbol persatuan, empati dan kepedulian. Konser ini menjadi wujud nyata solidaritas masyarakat Yogyakarta terhadap korban bencana hidrometeorologis di Sumatra. Bukan hanya menyuarakan kepedulian, konser ini juga mengingatkan semua orang untuk Berhenti Mengeksploitasi Bumi Kita.

Sejak sore, arus penonton terus berdatangan, tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari Klaten, Magelang, hingga Solo. Panitia mencatat lebih dari 12.000 tiket terjual melalui platform Artatix dengan sistem donasi minimal Rp50.000. Dana yang terkumpul, mencapai Rp836.918.677, seluruhnya disalurkan melalui Dompet Masjid Jogokariyan yang sebelumnya telah mengirimkan tim bantuan ke wilayah terdampak.

Bukan hanya penonton yang antusias namun banyak musisi yang antusias untuk menyusul  bergabung dalam konser ini akhirnya rela untuk berkolaborasi untuk menyumbangkan satu dua lagu bersama line up band independen Yogyakarta seperti Ngatmombilung, Jumat Gombrong, Jahanam, Korekayu, Tembang Gula, Wawes, Hasan Toys, Bravesboy, Rebellion Rose, YKHC, Kunto Aji, Shaggydog, Letto, dan Jikustik, panggung konser ini juga  menjadi ajang hubungan harmonis pertemuan musisi lintas generasi.  Semua tampil tanpa bayaran, menjadikan musik sebagai persembahan tulus untuk para penyintas. Lagu-lagu yang dibawakan malam itu tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuarakan semangat kebersamaan dan doa untuk pemulihan Sumatra.

Suasana berubah khidmat ketika Ustadz Salim A. Fillah memimpin doa bersama. Ribuan penonton menundukkan kepala, memanjatkan doa dan harapan bagi warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Momen ini menegaskan bahwa konser tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi sosial yang menyatukan doa dan aksi nyata.

Acara yang lahir dari inisiatif komunitas kreatif Yogyakarta turut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, sejumlah pejabat Pemkab Sleman, serta tokoh masyarakat termasuk pengusaha H. Muhamad Surya. Semangat “Hanyengkuyung”— mengadopsi semangat warga Jogja Hanyengkyung dan Lung Tinulung istilah Jawa yang berarti Mendukung dan Tolong Menolong —menjadi roh acara, memperlihatkan bagaimana musik dapat melampaui batas geografis, sosial, dan budaya.


Lebih dari sekadar konser, Jogja Hanyengkuyung Sumatra adalah pernyataan sikap generasi muda Yogyakarta: mereka tidak tinggal diam ketika saudara di seberang pulau membutuhkan uluran tangan. Nada-nada harapan yang bergema malam itu berpadu dengan langkah nyata berupa donasi, membuktikan bahwa solidaritas masyarakat bisa menjadi cahaya di tengah duka. Untuk donasi sendiri masih dibuka selama 5 hari setelah konser ini.

 

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X