Piknik Seru Hadirkan Warisan Autentik di Swara Prambanan

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Senin, 22 Desember 2025 | 14:45 WIB
Liburan Natal Dan Tahun Baru di Candi Prambanan, Yogyakarta (Philip Anton)
Liburan Natal Dan Tahun Baru di Candi Prambanan, Yogyakarta (Philip Anton)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Swara Prambanan tahun ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik dan budaya, tetapi juga melibatkan komunitas lokal untuk memperkaya pengalaman wisatawan. Berkolaborasi dengan dua pelaku budaya, Adi Jayantaka selaku founder Ramenjawi dan Agung Cendik founder Cendik Art Dance, InJourney Destination Management (IDM) menjadikan momen berwisata di kawasan Candi Prambanan lebih berarti.

Adi Jayantaka dalam jumpa pers di Candi Prambanan, Senin (22/12/2025), menjelaskan bahwa Ramenjawi merupakan komunitas budaya sekaligus travel dan event planner yang berkonsepkan budaya. Ia menegaskan bahwa pihaknya selalu melibatkan desa wisata, pelaku lokal, dan seniman untuk mengemas perjalanan wisata yang autentik. Konsep berbasis budaya ini sejalan dengan misi Kementerian Pariwisata untuk menghadirkan experience-based tourism. Bagi Adi, keterlibatan dalam Swara Prambanan adalah sebuah kehormatan. Ia menyebutkan bahwa keikutsertaan perdana ini terasa istimewa karena digelar di Candi Prambanan, ikon Yogyakarta. Ramenjawi ingin menghadirkan konsep piknik budaya yang mengangkat relief-relief Prambanan dalam bentuk gastronomi, wellness, dan seni.

Kolaborasi tersebut melahirkan Piknik Seru, sebuah paket perjalanan budaya yang berlangsung selama lima jam sebelum acara Swara Prambanan dimulai. Wisatawan diajak berkeliling kawasan Prambanan sambil menikmati kuliner tradisional, instalasi budaya, hingga aktivitas wellness. Konsep ini dibuat lebih ringan agar sesuai dengan generasi milenial dan Gen Z, namun tetap menjaga makna dan esensi budaya. Styling dengan wastra kekinian, eksplorasi heritage, hingga pengalaman gastronomi menjadi bagian dari kemasan yang ditawarkan.

Salah satu daya tarik Piknik Seru adalah pengalaman gastronomi yang berbeda. Tidak hanya menyajikan kuliner khas Jogja dan Jawa Tengah, tetapi juga menghadirkan storytelling dari para ahli kuliner. Komponen makanan dikemas dengan cerita sehingga pengunjung tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga memahami makna budaya di baliknya. Adi menambahkan bahwa keamanan pangan terjamin, harga terjangkau, dan kualitas rasa tetap bintang lima.

Rangkaian liburan Natal dan Tahun Baru di kawasan Candi Prambanan berlangsung sejak pertengahan Desember dengan berbagai aktivitas. Dimulai dari Pasar Medang yang menghadirkan festival kuliner khas Jogja, dilanjutkan dengan Dolan Ria Prambanan yang menyajikan permainan tradisional, instalasi budaya, dan aktivitas keluarga. Pada 31 Desember pagi, Piknik Seru Ramenjawi menghadirkan piknik ala Jawa era 80-an dengan pengalaman gastronomi dan wellness, sebelum akhirnya ditutup dengan puncak perayaan Swara Prambanan pada malam hari yang menampilkan pertunjukan musik dan budaya sekaligus momen doa bersama.

Rangkaian acara ini menegaskan bahwa pariwisata berkualitas bukan hanya soal hiburan, tetapi juga tentang menghadirkan pengalaman autentik, melibatkan komunitas lokal, dan memberi ruang bagi solidaritas. Swara Prambanan menjadi simbol bagaimana budaya, kuliner, dan kebersamaan dapat berpadu dalam satu perayaan akhir tahun yang bermakna.

Selain menghadirkan hiburan, perayaan di Prambanan juga mengangkat kembali kisah legendaris Roro Jonggrang dengan sudut pandang berbeda. Dalam versi ini, menurut Agung Cendik, Roro Jonggrang digambarkan sebagai sosok yang menipu untuk mengambil perhiasan, sebuah tindakan fatal yang dianggap dosa besar. Konsekuensinya, dalam cerita rakyat versi ini, dosa tersebut diibaratkan akan dimakan oleh naga raksasa bila tidak ditebus. Syarat kedua yang diajukan Roro Jonggrang kepada Bandung Bantawoso, yakni membangun seribu candi dalam semalam, juga dianggap mustahil.

Ketika akhirnya ia menyadari kesalahannya, Roro Jonggrang mengakui dosa dan meminta maaf kepada Bandung Bantawoso. Ia pasrah terhadap kuasa ilahi dan menyerahkan nasibnya pada takdir. Dari pengakuan dan kepasrahan itu, akhirnya ia dikutuk menjadi batu. Versi ini berbeda dari kisah yang biasa diceritakan tahun-tahun sebelumnya, menghadirkan nuansa reflektif bahwa setiap kesalahan harus diakui dan ditebus, serta menekankan makna pasrah pada kuasa Tuhan.

 

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ke Candi Prambanan, Rekreasi dan Memahami Sejarah

Kamis, 30 April 2026 | 19:32 WIB
X