TKP Senopati Disulap Jadi Pangkalan Becak dan Andong, Kusir Wajib Bermarka dan Berbusana Lurik

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Minggu, 3 Mei 2026 | 22:04 WIB
Moda Transportasi tradisional Andong dok. Ist
Moda Transportasi tradisional Andong dok. Ist

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mengambil langkah strategis menata ulang kawasan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati pasca diberlakukannya larangan masuk dan parkir bagi bus pariwisata. Kawasan yang dahulu menjadi tempat parkir armada besar itu kini disulap menjadi pangkalan resmi becak dan andong untuk melayani wisatawan yang ingin menjelajahi kawasan Jeron Beteng .


Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan respons atas tingginya minat wisatawan menuju kawasan dalam benteng Keraton, termasuk Malioboro, Kraton, hingga Pasar Ngasem yang kian populer.

"Setelah tidak ada aktivitas parkir bus pariwisata, TKP Senopati tetap dimanfaatkan oleh wisatawan dan kini banyak diakses kendaraan pribadi maupun Elf. Karena daya dukung parkir di dalam Jeron Beteng terbatas, maka kami siapkan TKP Senopati untuk pemberhentian becak dan andong sebagai moda lanjutan," ujar Agus Arif Nugroho saat ditemui di lokasi, Minggu (3/5/2026) 
Berdasarkan pantauan, area yang disiapkan untuk pangkalan berada di lokasi strategis, yakni di sisi utara dan selatan bangunan toilet kaca bawah tanah, serta di antara area parkir tengah dan barat.

Untuk memudahkan wisatawan, Dishub akan melengkapi lokasi tersebut dengan marka khusus serta papan informasi bertuliskan "order here". Wisatawan yang ingin menuju ke destinasi seperti Pasar Ngasem atau kompleks Keraton dapat langsung "memesan" becak atau andong dari titik ini.
Dari segi kapasitas, Agus Arif memaparkan bahwa secara statis atau Satuan Ruang Parkir (SRP), TKP Senopati mampu menampung sekitar 10 andong dan 30 becak dalam satu waktu. Namun, dengan sistem perputaran (turnover) selama 12 jam operasional, kapasitas hariannya diproyeksikan jauh lebih besar.

"Kalau andong dengan asumsi turnover 2 jam, dalam sehari bisa menampung 60 armada secara bergantian. Untuk becak, jika rata-rata ngetem 1 jam, kapasitas bisa mencapai lebih dari 200 becak dalam sehari," ungkap Agus.

Langkah ini diharapkan tidak hanya mengakomodir wisatawan, tetapi juga mengurangi kepadatan antrean becak dan andong yang selama ini kerap menumpuk di kawasan Malioboro .
Tak hanya soal fungsionalitas, Pemerintah Kota Yogyakarta juga memberikan perhatian khusus pada aspek estetika dan penguatan identitas budaya. Sesuai arahan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, para kusir andong dan pengemudi becak yang bertugas di pangkalan ini akan diarahkan untuk mengenakan pakaian khas Yogyakarta, seperti lurik.

"Prinsipnya kita siapkan dulu tempatnya, bagaimana moda transportasi tradisional kita perkuat agar memiliki nilai lebih bagi wisatawan yang ingin menjelajah kawasan Jeron Beteng," tegas Agus Arif Nugroho .

Pengenaan busana lurik ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman wisata yang lebih otentik dan berkesan, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang ingin merasakan atmosfer tradisional Yogyakarta .

Dishub juga tengah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk memastikan pengelolaan limbah, khususnya kotoran kuda andong, serta kebersihan kawasan tetap terjaga dengan baik.
Selain itu, Dishub juga akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan pendataan resmi terhadap para kusir dan pengemudi yang akan bertugas di lokasi, memastikan tertib administrasi dan kenyamanan bersama .

Penataan TKP Senopati ini menjadi bagian dari upaya besar Pemerintah Kota Yogyakarta untuk melindungi kawasan inti Sumbu Filosofi dari kepadatan kendaraan besar sekaligus mendistribusikan wisatawan ke berbagai destinasi di Jeron Beteng menggunakan moda transportasi ramah lingkungan dan bernilai budaya tinggi .

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ke Candi Prambanan, Rekreasi dan Memahami Sejarah

Kamis, 30 April 2026 | 19:32 WIB
X