Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Di tengah geliat pariwisata Prambanan, sebuah toko baru hadir dengan misi yang lebih besar daripada sekadar menjual batik. Batik Putra Boko, yang resmi dibuka awal Desember, menjadi ruang pemberdayaan bagi lebih dari 50 UMKM lokal sekaligus pusat oleh-oleh khas daerah yang mengusung identitas budaya.
Pemiliknya, Anis Suci Fajarwati, menegaskan bahwa langkah ini adalah komitmen untuk mengangkat potensi lokal. “Saya ingin usaha ini menjadi pionir yang menghubungkan karya kreatif masyarakat dengan sektor pariwisata. Harapannya, toko ini bisa membuka lapangan kerja dan menjadi awal pertumbuhan ekonomi baru di Boko Harjo,” ujarnya saat peresmian.
Baca Juga: Dari Sayur Lodeh hingga Grounding: Filosofi Wellness GKR Bendara di Malioboro Culture Vibes 2025
Nama Putra Boko dipilih sebagai penghormatan terhadap situs bersejarah Candi Ratu Boko yang berada tak jauh dari lokasi toko. Interiornya dirancang autentik, menghadirkan nuansa tradisi yang kuat. Produk yang ditawarkan pun beragam: batik dengan motif eksklusif bertema Candi Boko, kaos desain khusus, aksesoris, tas, sepatu, hingga kuliner khas Jogja seperti bakpia. Semua melibatkan tenaga kerja lokal, sehingga nilai ekonomi langsung kembali ke masyarakat.
Bagi Anis, toko ini bukan sekadar bisnis. Ada jejak personal yang ia bawa: almarhum ayahnya berasal dari Boko Harjo, dan ia ingin menjadikan usaha ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus warisan. “Saya ingin menjadi pionir oleh-oleh khas daerah, mengangkat budaya, dan membuka peluang kerja. Semoga ini bisa menjadi awal pertumbuhan ekonomi baru di sekitar sini,” katanya.
Baca Juga: Prekuel Sewu Dino, Janur Ireng Hadirkan Horor Jawa Lebih Pekat
Perjalanan Anis di dunia batik dimulai sejak 2010, ketika masih kuliah dan mendapat dukungan kampus. Tahun 2015 menjadi titik serius dengan lahirnya brand Batik Yudistira, yang kini memiliki lima cabang di Yogyakarta. Dari produksi mandiri hingga kolaborasi dengan mitra, ia terus mengembangkan jaringan yang kini melibatkan lebih dari 100 UMKM.
Sebagai pembeda, Batik Putra Boko menghadirkan motif eksklusif bertema Candi Boko dengan lima pilihan warna: hitam, broken white, navy, dan maroon. Prosesnya menggunakan teknik batik cap dengan cetakan buatan sendiri, agar produksi lebih cepat dan tetap menjaga kualitas. Selain batik, toko ini juga menawarkan kuliner melalui brand Bakpi Ajiwa Jogja dengan konsep *open kitchen*, menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan.
Manajer Sales Marketing, Sungkowo Istining Wardoyo atau Bowo, menambahkan bahwa strategi pemasaran diarahkan pada segmen wisata. Mereka bersinergi dengan travel agent, tour leader, tour guide, hingga komunitas wisata. Dengan lokasi yang berada di jalur wisata menuju Prambanan dan dekat situs Ratu Boko, toko ini diharapkan menjadi destinasi baru bagi wisatawan.
Baca Juga: PSGGC Jogja Dorong Literasi Gifted Ungkap Mitos dan Buka Ruang Aman Bagi Anak Berbakat di Indonesia
Momentum pembukaan toko bertepatan dengan liburan Natal dan Tahun Baru, saat arus wisatawan meningkat. “Nataru ini traffic wisatawan tinggi, jadi kami ingin menyerap pasar itu,” ungkap Anis.
Lebih dari sekadar toko batik, Batik Putra Boko adalah simbol pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan mengusung motif khas, menggandeng UMKM, dan menyasar wisatawan, Anis berharap usaha ini menjadi pionir bagi lahirnya destinasi wisata baru di kawasan Boko Harjo. “Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir. Saya ingin ada pertumbuhan ekonomi lain di sekitar, sehingga masyarakat ikut merasakan manfaatnya,” tutupnya.
Artikel Terkait
Gunungan Oleh-Oleh UMKM DIY Pecahkan Rekor Dunia Dan MURI
Bedah Buku Wisata Kebugaran ‘Wonderful Indonesia Wellness’ segera digelar di Yogya
PSSI Tegaskan Pelatih Baru Timnas Wajib Bina Coach Lokal, Seleksi Masuk Babak Akhir
Dari Sayur Lodeh hingga Grounding: Filosofi Wellness GKR Bendara di Malioboro Culture Vibes 2025