“Dari akumulasi pengkhianatan politik ini, rakyat menyampaikan resolusi #BubarkanDPR,” ujar perwakilan mahasiswa, menegaskan kembali bahwa aksi ini adalah pernyataan perlawanan moral terhadap sistem yang dinilai gagal.
Aksi #BubarkanDPR bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan simbol kekecewaan rakyat terhadap lembaga legislatif yang kerap dianggap berjarak dengan realitas masyarakat. Bagi para demonstran, tuntutan penghapusan tunjangan DPR bukan hanya soal uang, melainkan simbol perlawanan terhadap gaya hidup mewah pejabat di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit.
Di berbagai poster aksi terlihat sindiran tajam: “Wakil Rakyat atau Wakil Oligarki?”, “Stop Privilege, Dengarkan Rakyat!”, hingga “Tunjangan DPR Sama dengan Biaya Hidup Rakyat Setahun.”
Hingga pukul 19.00 WIB, massa masih bertahan di depan Gerbang Pancasila, Gedung DPR RI. Aksi sempat diwarnai ketegangan ketika aparat kepolisian berusaha mengatur pergerakan massa yang semakin padat. Situasi membuat barisan demonstran terpecah menjadi dua kelompok, namun aksi tetap berlangsung dengan pengawalan ketat.
Meski diwarnai gesekan, para mahasiswa menegaskan akan terus bersuara jika aspirasi mereka tidak dihiraukan. “Rakyat tidak tinggal diam. Selama DPR abai, kami akan terus bergerak,” seru salah satu orator.
Artikel Terkait
Adies Kadir: Tunjangan Rumah Rp50 Juta Masih Kurang, Anggota DPR Tetap Harus Rogoh Kantong Pribadi
Petani Tebu Adukan ke DPR: 100 Ribu Ton Gula Menumpuk, Impor Bebas Dinilai Rugikan Produk Lokal
BKKBN dan DPR-RI Dapil Bengkulu Gelar Sosialisasi Bangga Kencana
DPR Tegaskan Usia Pensiun Guru 60 Tahun Bukan Bentuk Diskriminasi
Misbakhun Soal Tunjangan Rumah Rp50 Juta: Keputusan Menkeu, DPR Hanya Menjalankan