Namun tangan di atas bukan berarti lebih mulia sebagai manusia. Ia hanya sedang diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi jalan kebaikan.
Baca Juga: Mahfud MD Kritik Board of Peace Trump, Minta Indonesia Kembali ke Jalur Bebas-Aktif
Setelah infak, tugas kita justru semakin berat: menjaga keikhlasan.
Ikhlas itu seperti mata air jernih. Jika tercampur sedikit saja dengan riya’ dan harapan pujian, kejernihannya berubah. Kadang kita tidak menyebut-nyebut di depan orang lain, tetapi hati kita diam-diam berharap dihargai.
Di situlah ujian sebenarnya.
Seorang hamba yang matang imannya akan melupakan infaknya sebagaimana ia melupakan uang yang pernah jatuh di jalan. Ia tidak lagi menghitungnya. Ia serahkan semuanya kepada Allah.
Karena yang kita lepaskan dari tangan, belum tentu benar-benar kita lepaskan dari hati.
Setelah infak, diamlah.
Biarkan Allah yang mencatat.
Biarkan malaikat yang menyimpan.
Biarkan penerima mendoakan tanpa kita tahu.
Jika suatu hari hidup terasa sempit, mungkin di situlah Allah sedang menyiapkan balasan dalam bentuk yang tak kita sangka.
Baca Juga: PMI Bengkulu Gelas Musprov IX, Gubernur Helmi Hasan Tegaskan Komitmen Penuh Untuk Kemanusiaan
Sebab sedekah yang benar-benar ikhlas tidak pernah hilang. Ia berubah menjadi ketenangan, keberkahan, dan cahaya yang menuntun kita pulang.
Dan pada akhirnya, yang kita cari bukan tepuk tangan manusia— melainkan ridha Allah semata.