Baca Juga: Ramadhan yang Suci, Puasa yang Ikhlas akan Meningkatkan Derajat Kemuliaan Dirimu
Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.
Ada tanda-tandanya
Tanda-tanda pada malam itu, Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya).
Kemudian, Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.
Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150).
Buan Ramadhan ini memang, oleh para ulama memberikan arti dan makna Ramadhan sebagai bulan untuk ‘mengasah’ jiwa, ‘mengasah’ ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat ‘membakar’ sifat-sifat tercela dan ‘lemak-lemak dosa’ yang ada dalam diri kita.
Baca Juga: Ramadhan Bulan Latihan Untuk ‘Berpuasa’ Sepanjang Tahun
Ada pengertian yakni Syahr al-Qur’an (bulan Alquran), karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama. Inipun Umat Islam akan menuaikan puasa (shaum) pada bulan Ramadhan.
Bulan ini adalah bulan yang dinanti. Bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, ada satu malam yang istimewa yaitu malam lailatul qodar. Malam ini penuh dengan keberkahan, kedamaian, kesyahduan, dan malam yang mulia dari seribu bulan. Subhanallah.
Ulama memberikan pandangan pengertian shaum sebagaimana Firman Allah dan dari Hadist Rasulullah Shollollohu’alaihiwasallam, bahwa Ramadhan inilah semua unsur tingkat tinggi kebahagian sangan memungkinkan untuk dapat diraih.
Puasa adalah ‘pelebur’ dosa. Mereka yang memohon ampun kepada Allah SWT dan menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan sebelum ini, maka penuh harapan kepada Allah untuk mengampunkan dosa-dosa tersebut. Puasa adalah memulai lembaran baru. Lembaran dimana semua kisah usang yang penuh dosa hendaklah ditinggalkan, dan kemudian mengisi lembaran kita dengan tulisan yang mengukir kebaikan demi kebaikan.
Puasa membunuh nafsu maksiat. Bila selama ini nafsu maksiat atas apa saja yang tidak baik bagi Allah, maka haruslah ditinggalkan, lalu menggantinya dengan nafsu yang mengarahkan hati kepada ketundukan dan nafsu kebaikan.
Puasa adalah mengeluarkan jiwa dari kebodohan atas semua tindakan yang hubbud dunya (Cinta dunia semata). Sikap sombong, angkuh, amarah, kedengkian, kebencian, kesusahan maupun prasangka buruk, handaklah diberangus. Bergantilah hati dengan sinar kebaikan, penuh kasih sayang dan cinta karena Allah semata.
Baca Juga: Ratusan Akademisi Internasional Bertemu, Definisikan Ulang Peran Agama Hadapi Krisis Global
Rasulullah SAW berpasan dalam hadits; Puasa adalah perisai, maka janganlah (orang yang berpuasa) berkata tidak senonoh, dan berbuat jahil, dan jika ada orang yang memusuhinya maka hendaklah ia berkata sebanyak dua kali: “saya sedang berpuasa”.Begitulah besar makna dari berpuasa.Rasulullah SAW dalam hadistnya mengingatkan kita agar kaum mukmin yang shaum, hendaklah tidak berlebih-lebihan perbuatannya. Mengumpulkan makanan sehingga mubasir, membeli pakaian yang tidak dibutuhkan.
Tetapi Rasulullah menganjurkan untuk memberikan makanan kepada kaum seiman yang berpuasa dan para janda miskin, anak-anak yatim, saudara yang serba kekurangan. Ibadah ini menjadi sebuah jalan bagi kita untuk menjelmakan Lailatur Qadar pada seluruh kehidupan kita. Begitu banyak ibadah yang kita bisa lakukan, tetapi seringkali terabaikan. Maka bulan puasa Ramadhan adalah waktu yang tersedia untuk kita meningkatkan ibadah dan berbagai, menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan diantara sesama manusia.(*)
Artikel Terkait
Majukan Syiar Islam, Herman Deru Resmikan Masjid Al Hijrah di Bukit Baru
Sarimo, dan Dolanan Tradisional Jelang Puasa
Syafruddin :Islam Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
Selama Ramadhan, PJ Wali Kota Batu Kirim 60 Menu Makanan Buka Puasa Bagi Warga Kurang Mampu
Ramadhan yang Suci, Puasa yang Ikhlas akan Meningkatkan Derajat Kemuliaan Dirimu
Lembaga Pemeriksa Halal UGM Siap Melayani Kebutuhan Masyarakat
Jelang Arus Mudik, Perbaikan Jalan Longsor Bengkulu-Kepahiang Dikebut
Ramadhan Bulan Latihan Untuk ‘Berpuasa’ Sepanjang Tahun