SuaraPembaruan.News - Saat ini kita sudah kembali kepada bulan-bulan kemenangan atau lazim juga disebut sebagai bula kemuliaan atau kembalinya seorang anak manusia yang beriman kepada kondisi fitrah, setelah mampu menahan hawa nafsu selama sebulan penuh dalam puasa Ramadhan.
Lagi pula ini adalah perkara wajib. Firman Allah .:” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’(QS. Al Baqarah (2): 183).
Dalam konteks syariat Islam, motivasi puasa tidak lain kecuali untuk meninggikan derajat manusia ke puncak kehidupan ruhaniyah yang tinggi dan mulia dalam pandangan Allah. Dalam pandangan Islam, derajat tertinggi manusia adalah yang bertakwa.
Baca Juga: Majukan Syiar Islam, Herman Deru Resmikan Masjid Al Hijrah di Bukit Baru
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hujurat ayat 13.”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Tafsirweb.com). Puasa adalah bentuk ketakwaan yang begitu tinggi.
Manusia beriman Islam yang mampu mengalahkan hawa nafsu yang dalam mengarungi lautan kehidupan, tentu mendapat kehormatan disisi Allah SWT. Orang ini menjadi hamba Allah yang muttaqin dan hamba yang kembali suci atau fitrah (besih). Para ulama mengatakan, manusia yang suci bersih itu tidak banyak. Hanya sedikit. Mereka adalah orang yang beriman yang dapat mengakhiri shaumnya (puasanya) di bulan Ramadhan dengan paripuirna.
Baca Juga: Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam
Fitrah atau dalam keadaan suci, putih hatinya, karena telah menjalankan ibadah yang tinggi selama Ramadhan. Orang-orang mu’min ini akan memasuki episode kehidupan baru. Kehidupan yang penuh dengan makna. Penuh dengan arti. Nilai-nilai luhur mendasari kehidupannya, yang tertanam dalam hati. Nilai-nilai yang bersumber dari Islam.
Kehidupan yang bersih dari segala bentuk kotoran dunia. Kehidupan yang tidak lagi mau berkolaborasi dengan hal-hal yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam bentuk kekejian. Kehidupan yang tidak lagi dilurumi dengan dosa. Inilah makna kembali kepada fitrah.
Gambaran orang-orang yang sudah dipisahkan dengan kehidupan jahiliyah. Gambaran orang-orang yang berhasil melaksanakan shaum, dan pasti tergambar dalam kehidupan berikutnya secara esensi. Hakekatnya di dalam diri manusia senantiasa terjadi pertarungan antara hawa nafsu yang mengajak manusia kearah kesesatan dengan keinginan manusia berbuat baik. Ada kalanya manusia kalah dengan hawa nafsunya.
Kadang-kadang manusia menang melawan hawa nafsunya. Kadang-kadang manusia yang menonjol kebaikannya. Kadang-kadang manusia menonjol keburukannya. Manusia yang dapat mengalahkan hawa nafsunya adalah manusia yang akan selamat di dunia dan akhirat.
Itulah pula yang menunjukkan kembalinya hati yang putih bersih itu. Ibadah puasa mengingatkan kita, bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan harta dan makanan sekalipun tentu tetap harus menahan lapar dan dahaga sampai batas waktu tertentu (berbuka). Kondisi tersebut diharapkan tumbuhnya kesadaran, betapa menderitanya fakir miskin dan orang-orang yang tak berharta terpaksa berpuasa hampir sepanjang tahun.
Sebuah dalil soal puasa ada juga dalam Hadist Rasulullah, menegaskan posisi hukum puasa Ramadhan. Dari Abdullah bin Umar Rasulullah SAW bersabda: Yang artinya: “Islam ditegakkan di atas lima perkara, yaitu dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi mereka yang mampu.” Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, dan Imam An-Nasai. Kadar hadis ini shahih (tak diragukan lagi keabsahannya).
Begitulah kita, putih yang sangat bersih telah melekat kini dalam diri. Tentu tak ingin lagi ada noda-noda yang membuat kembali munculnya noda hitan melumuri bathin. Jiwa yang putih ini harus dipertahankan, dan menjadi manusia yang taat dalam kehidupan sosialnya dan terlebih taat dalam kehidupan keIslamannya, yang menuntut nilai-nilai yang baik dan menjadi manusia yang paripurna di mata Allahurobbi.
Baca Juga: Syafruddin :Islam Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
Artikel Terkait
Majukan Syiar Islam, Herman Deru Resmikan Masjid Al Hijrah di Bukit Baru
PP IKADI Anugarahi Herman Deru Penghargaan Tokoh Nasional Peduli Dakwah Islam Rahmatan Lil'Alamin
Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam
Syafruddin :Islam Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
1 Abad NU - Pemikiran Pendidikan Islam Hasyim Asy’ari dan Tradisionalisme
Mahasiswa UIII Harus Wujudkan Islam yang Damai
Ribuan Umat Islam Shalat Gaib untuk Palestina di Istiqlal
Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah