Ramadhan yang Suci, Puasa yang Ikhlas akan Meningkatkan Derajat Kemuliaan Dirimu

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Selasa, 27 Februari 2024 | 08:16 WIB
Kurma Adalah Satu yang Menyehatkan saat Berbuka Puasa. { SuaraPembaruan.News/Samte.
Kurma Adalah Satu yang Menyehatkan saat Berbuka Puasa. { SuaraPembaruan.News/Samte.

Puasa, dengan keimanan yang cukup kuat, akan memperoleh hasil yang baik dalam menjaga kesucian hati. Hati yang suci adalah hati yang istiqomah dijalan Allah. Ibadah puasa mengantarkan kita menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan matang spiritualitasnya. Ritual puasa memberi efek positif dalam tubuh manusia, setelah selama sebelas bulan organ-organ tubuh bekerja tanpa henti. Puasa juga mendorong lahirnya kekuatan mental, ketenangan jiwa, dan menumbuhkan pribadi mulia.

Ketahanan fisik dan kematangan spiritual, merupakan prasyarat utama manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Puasa juga menjernihkan batin kita. Ibadah puasa yang dijalani akan meningkatkan kualitas kepribadian manusia. Ritual puasa yang dilakukan secara khusyuk dan ikhlas, akan meminggirkan amarah dan menghadirkan ketenangan berpikir. Hal ini, sesuai dengan hikmah puasa, yang berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, hanya akan menjadi pribadi yang egois, perusak alam, dan pengejar kekuasaan.

Pada titik inilah, manusia merasakan nafsu yang ketiga, nafsu muthmainnah. Yakni, nafsu yang lembut, menghadirkan ketenangan yang menggelayut dalam jiwa. Puasa adalah bentu zikrullah:” Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” Dan itu juga sebagai bentuk peringatan agar kita selalu dalam kondisi bertashbih setiap saat.  “Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS, Al Ahzab: 41-42).

Baca Juga: Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah

Dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa Istri Rasullah Saw Aisyah pernah menafkahkan hartanya, dalam satu hari dibulan Ramdhan, sebanyak 100 ribu dirham, sehingga hanya yang tersisa baju yang dipakai sehari-hari. Lalu pembantunya berkata kepadanya: “ Sebaiknya anda sisakan sedikit untuk keperluan kita berbuka pada hari ini, kemudian Aisyah menjawab : “ seandainya tadi engkau ingatkan pasti akan aku sisakan  untuk keperluan tersebut.”

Begitulah sifat dari sosok seseorang yang melaksanakan ibadah puasa, ia lupa akan kebutuhan dirinya sendiri, akan tetapi sebaliknya ia selalu ingat dengan kebutuhan orang lain.  Alangkah mulianya Akhlak orang yang berpuasa ia memiliki sifat empati, dimana ia memikirkan kebutuhan dan keperluan orang lain dan melupakan kebutahannya sendiri.

Dan inilah yang dikehendaki oleh Allah tentang pensyareatan puasa. Maka tentunya kita dapat mengambil sebuah hikmah dan merefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dibulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan, karena pada hakekatnya Ramadhan sebagai Tarbiyyatun Nafs (Penempaan jiwa ). (https://kepri .kemenag.go. id /page/det/puasa). (*)

Penulis: Bangun Lubis 

 

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Ketika Adab Runtuh, Negeri Tinggal Nama

Sabtu, 3 Januari 2026 | 12:04 WIB

Allah Selalu Menjagamu Setiap Desah Nafasmu

Kamis, 18 September 2025 | 07:33 WIB

Allah Mencintai Hamba yang Terus Berbuat Baik

Rabu, 17 September 2025 | 07:46 WIB

Ketika Kesabaran Menjadi Jalan Hidayah

Jumat, 23 Mei 2025 | 15:07 WIB

Husniah Lepas 599 Jemaah Calon Haji Gowa

Jumat, 25 April 2025 | 13:46 WIB
X