Puasa, dengan keimanan yang cukup kuat, akan memperoleh hasil yang baik dalam menjaga kesucian hati. Hati yang suci adalah hati yang istiqomah dijalan Allah. Ibadah puasa mengantarkan kita menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan matang spiritualitasnya. Ritual puasa memberi efek positif dalam tubuh manusia, setelah selama sebelas bulan organ-organ tubuh bekerja tanpa henti. Puasa juga mendorong lahirnya kekuatan mental, ketenangan jiwa, dan menumbuhkan pribadi mulia.
Ketahanan fisik dan kematangan spiritual, merupakan prasyarat utama manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Puasa juga menjernihkan batin kita. Ibadah puasa yang dijalani akan meningkatkan kualitas kepribadian manusia. Ritual puasa yang dilakukan secara khusyuk dan ikhlas, akan meminggirkan amarah dan menghadirkan ketenangan berpikir. Hal ini, sesuai dengan hikmah puasa, yang berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, hanya akan menjadi pribadi yang egois, perusak alam, dan pengejar kekuasaan.
Pada titik inilah, manusia merasakan nafsu yang ketiga, nafsu muthmainnah. Yakni, nafsu yang lembut, menghadirkan ketenangan yang menggelayut dalam jiwa. Puasa adalah bentu zikrullah:” Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” Dan itu juga sebagai bentuk peringatan agar kita selalu dalam kondisi bertashbih setiap saat. “Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS, Al Ahzab: 41-42).
Baca Juga: Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah
Dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa Istri Rasullah Saw Aisyah pernah menafkahkan hartanya, dalam satu hari dibulan Ramdhan, sebanyak 100 ribu dirham, sehingga hanya yang tersisa baju yang dipakai sehari-hari. Lalu pembantunya berkata kepadanya: “ Sebaiknya anda sisakan sedikit untuk keperluan kita berbuka pada hari ini, kemudian Aisyah menjawab : “ seandainya tadi engkau ingatkan pasti akan aku sisakan untuk keperluan tersebut.”
Begitulah sifat dari sosok seseorang yang melaksanakan ibadah puasa, ia lupa akan kebutuhan dirinya sendiri, akan tetapi sebaliknya ia selalu ingat dengan kebutuhan orang lain. Alangkah mulianya Akhlak orang yang berpuasa ia memiliki sifat empati, dimana ia memikirkan kebutuhan dan keperluan orang lain dan melupakan kebutahannya sendiri.
Dan inilah yang dikehendaki oleh Allah tentang pensyareatan puasa. Maka tentunya kita dapat mengambil sebuah hikmah dan merefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari baik dibulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan, karena pada hakekatnya Ramadhan sebagai Tarbiyyatun Nafs (Penempaan jiwa ). (https://kepri .kemenag.go. id /page/det/puasa). (*)
Penulis: Bangun Lubis
Artikel Terkait
Majukan Syiar Islam, Herman Deru Resmikan Masjid Al Hijrah di Bukit Baru
PP IKADI Anugarahi Herman Deru Penghargaan Tokoh Nasional Peduli Dakwah Islam Rahmatan Lil'Alamin
Paksakan Diri dan Tekun Menjalankan Perkara Ibadah Syariat Islam
Syafruddin :Islam Harus Siap Hadapi Tatanan Dunia Baru
1 Abad NU - Pemikiran Pendidikan Islam Hasyim Asy’ari dan Tradisionalisme
Mahasiswa UIII Harus Wujudkan Islam yang Damai
Ribuan Umat Islam Shalat Gaib untuk Palestina di Istiqlal
Indonesia Mayoritas Islam tapi Pengusaha Muslimnya Terendah