SuaraPembaruan.News - Tiada cinta yang paling tinggi kecuali cinta Allah kepada hamba-Nya. Oleh karena itu pula adalah sebuah konsekwensi untuk mencintai Allah sebagai hamba yang diciptakannya. Tidak akan sempurna tauhid (peng-Esaan) kepada Allah hingga seorang hamba mencintai Tuhannya secara sempurna.
Dalam sebuah Kajian di Masjid Al Furqon, Ustadz Prof DR Yuwono pernah, kecintaan tidak bisa didefinisikan dengan lebih jelas kecuali dengan kata "kecintaan" itu sendiri. Tiada suatu apapun menurut hati yang bersih, sukma yang suci, pikiran yang jernih lebih indah, lebih nyaman, lebih lezat, lebih menyenangkan dan lebih nikmat dari pada kecintaan kepada Allah, perasaan tenteram damai di sisi-Nya dan kerinduan akan perjumpaan dengan-Nya.
Baca Juga: 20 Tahun Mega Wisata, Selalu Berkomitmen Memberikan Pelayanan Terbaik Untuk Masyarakat
Kecintaan kepada Allah adalah tujuan akhir yang merupakan derajat tertinggi. Setelah sudah menggapai kecintaannya kepada Allah, maka kita pun memperoleh buah dari kecintaannya tersebut. Yakni kerinduan, kenyamanan, dan ridha kepada Allah. Sebelum mencapai kecintaan kepada Allah, kita pun mesti melewati tingkatan sebelumnya yaitu taubat, sabar, zuhud, dan lainnya. Yuk kita mencapai derajat tertinggi dengan mencintai Allah.
Cinta yang paling bermanfaat, yang paling penting, yang paling tinggi juga yang paling mulia, hanyalah kecintaan kepada Dzat yang menciptakan hati dan juga cinta. Dzat yang menjadikan kecintaan kepada-Nya sebagai fitrah setiap makhluk-Nya. Itulah AIlah, Dzat yang dicenderungi oleh hati dengan kecintaan dan ketundukan. Dan tiada AIlah kecuali Allah. Allah dicintai secara sempurna
Allah dicintai bukanlah sebab hal yang lain. Allah dicintai secara sempurna, yaitu segala yang ada pada-Nya. Segala sesuatu selain-Nya, hanyalah dicintai dalam rangka cinta kepada Allah. Kewajiban mencintai Allah telah ditunjukkan oleh seluruh kitab yang diturunkan, dan telah disampaikan pada setiap rasul yang diutus. Juga oleh fitrah akal manusia, hati, dan juga tabiat.
Baca Juga: Universitas Muhammadiyah Malang Raih Akreditasi Unggul
Seluruh hati manusia diciptakan dengan tabiat mencintai apapun yang dapat memberinya manfaat, nikmat serta bersikap baik kepadanya. Maka setiap manusia harusnya mencintai Allah, yang merupakan asal dari segala kebaikan. Setiap kebaikan yang dirasakan manusia, semuanya berasal dari Allah. Allah berfirman : “Segala nikmat yang ada pada kalian berasal dari Allah, kemudian jika kalian ditimpa kemudharatan, kepadaNya lah kalian memohon pertolongan.” (QS. An-Nahl [16] : 53).
Semua yang Allah berikan kepada hamba-Nya, itu semua menyeru kepadanya untuk mencintai Allah. Yakni menyeru hati untuk hanya mencintai dan beribadah kepada-Nya. Kebaikan Allah terus-menerus turun kepada hamba-Nya. Sementara hamba-Nya terus menerus berbuat berbuat dosa kepada-Nya.
Allah senantiasa mengusahakan agar kita mencintainya dengan terus memberikan kasih sayang dan cintanya kepada kita, meskipun Allah sama sekali tidak membutuhkan hal tersebut. Itu semua demi kebaikan hamba-Nya. Tidak ada alasan yang membuat kita tidak mesti mencintai-Nya. Allah mengasihi hamba-Nya tanpa pamrih. Allah mengabulkan doa-doa juga mengampuni kesalahan kita.
Baca Juga: Pelunasan Biaya Haji Tahap I Diperpanjang Hingga 23 Februari 2024
Dalam hadist qudsi, Allah berfirman : “Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepadaKu akan Ku beri, Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, maka Aku ampuni.” (HR. Muslim).
Jika saja ada seseorang yang baik kepada kita, selalu memberikan kasih sayangnya pada kita dan selalu memaafkan kesalahan yang kita perbuat, sudah pasti kita akan mencintainya. Lalu, mengapa kita belum juga mencintai Allah dengan kecintaan yang sempurna, padahal Allah lah selalu memberikan kebaikan seumur hidup kita.
Orang yang belum mencintai Allah, belum sempurnalah keimanannya. Jika dia bisa mencintai makhlukNya, mengapa dia tidak mencintai Sang Khalik. Itu disebabkan dirinya masih belum meyakini keberadaan Allah Swt. sepenuhnya. Padahal Allah itu selalu mengawasinya, dan Allah itu dekat dengannya.
Allah berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…” (QS. Al-Baqarah [2] : 186). Mencintai Allah adalah kehidupan bagi hati dan nutrisi bagi ruh. Tanpanya, hati tidak akan merasakan kelezatan, kenikmatan, kemenangan, dan bahkan kehidupan. Bila hati kehilangan cintanya kepada Allah, deritanya melebihi apapun yaitu penyesalan, kekosongan hati, dan jauh daripada kebenaran.
Artikel Terkait
Kontribusi Dinilai Baik, Dewangga Perpanjang Kontrak Hingga 2027
Gejayan Kembali Memanggil Mahasiswa hingga Dosen Turun ke Jalan
Keterwakilan Perempuan di Parlemen Harus Konsisten Ditingkatkan
Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI AU Atraksi di Palembang
10.000 Nasi Bungkus Setiap Hari dan Layanan Medis dari Prajurit Kodam Diponegoro untuk Korban Banjir di Demak
Ini Dia Orang-Orang yang Paling Kaya di Dunia Ini
Buku Kami Mantan Wartawan Ingatkan Budaya Instan
20 Tahun Mega Wisata, Selalu Berkomitmen Memberikan Pelayanan Terbaik Untuk Masyarakat