Buku Kami Mantan Wartawan Ingatkan Budaya Instan

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Sabtu, 17 Februari 2024 | 21:16 WIB
Diskusi Buku Kami Mantan Wartawan di Jogja. Buku ini disiapkan selama dua tahun oleh Albert Kuhon, wartawan senior yang pernah bekerja di Kompas, Sinar Harapan dan Suara Pembaruan.
Diskusi Buku Kami Mantan Wartawan di Jogja. Buku ini disiapkan selama dua tahun oleh Albert Kuhon, wartawan senior yang pernah bekerja di Kompas, Sinar Harapan dan Suara Pembaruan.

 

BUKU “Kami Mantan Wartawan” yang dieditori Albert Kuhon adalah kumpulan kisah perjuangan para wartawan eks Sinar Harapan dan Suara Pembaruan sebagai pemburu berita di tanah air di tengah berbagai represi, khususnya di era Orde Baru.

Baca Juga: Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Bertanggungjawab Atas Penembakan Pesawat Wings Air

Buku ini disiapkan selama dua tahun oleh Albert Kuhon, seorang wartawan senior yang pernah bekerja di berbagai media seperti Kompas, Suara Pembaruan, Liputan 6 SCTV, dan lainnya.

Dalam buku yang menampilkan 19 kisah dari 19 wartawan yang pernah menjadi bagian dari keluarga besar Sinar Harapan dan Suara Pembaruan ini, mengungkapkan tantangan, dan keberhasilan sebagai insan pers yang menyajikan informasi akurat, objektif, dan kritis.

Baca Juga: Stadion Jatidiri Direnovasi, PSIS Cari Alternatif Stadion untuk Gelar Sisa Pertandingan

Buku ini layak menjadi catatatan bagi jurnalis muda di era digital, bahkan bisa menjadi ‘guru’ di kala idealisme seorang jurnalis berada di ujung jurang.

Albert Kuhon pun menceritakan pengalamannya sebagai Kepala Biro Suara Pembaruan di New York, saat meliput berbagai peristiwa penting dan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia, termasuk berada dalam situasi perang teluk, penyanderaan di Peru, dan kisah Zarima.

Baca Juga: Jawa Tengah Sabet 3 Penghargaan dari Bapanas Berkat Intensif Mendorong Penganekaragaman dan Keamanan Pangan

Penulis lain dari total 19 penulis, Sihol Manullang yang sempat meliput peristiwa G30S/PKI di Jakarta, hingga mengabadikan pengambilan jenazah para jenderal di Lubang Buaya, dan mengirimkannya ke kantor. Ancaman, intimidasi dari alat negara, hingga ditipu oleh naras umber, menjadi bagian romantika yang diungkapkannya.

Baca Juga: Basarnas Makassar Evakuasi Korban Kecelakaan Kerja di Kapal Asing

Begitu juga dengan memori yang ditulis Upa Labuhari saat bertugas meliput peristiwa Malari 1974, peristiwa Tanjung Priok 1984 (Aries Sudiono), dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang tidak terekam dalam pemberitaan.

Baca Juga: Pelaku Pembacokan Ketua KPPS Ditangkap, Dengan Ringan Mengaku Emosi

Dalam sebuah diskusi, Sabtu (17/02/2024) di Museum Sandi Kota baru Yogyakarta, sebagai bagian dari Peringatan Hari Pers, yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY), yang bekerjasama dengan Sastra Bulan Purnama, menghadirkan Albert Kuhon, Nasrullah Krisnam dan Sarworo Suprapto selaku moderator, acara ini juga menjadi ajang reuni dan nostalgia para wartawan senior.

Halaman:

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kajati Resmikan Kantor Kajari Bengkulu Tengah

Kamis, 23 Januari 2025 | 17:20 WIB
X