pendidikan

Buntut Kasus Dokter Cabul, Menkes Budi Gunadi Wajibkan Rekrutmen PPDS Pakai Tes Psikologi

Senin, 21 April 2025 | 11:19 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi pabrik Oneject Indonesia terkait pembuatan mesin Hemodialisa dan kantong darah pada 26 Februari 2025. (Instagram/bgsadikin)

Bandung, SUARA PEMBARUAN - Kasus-kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum calon dokter di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) menjadi sorotan publik.Baca Juga: Semasa Hidup, Ricky Siahaan Sangat Suka Bulan April: Ciptakan Lagu ‘Ceritakan April’ dan Meninggal di Bulan April

Sebelumnya diketahui, kasus pelecehan yang melibatkan calon dokter spesialis itu salah satunya yakni skandal pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh residen anestesi di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Priguna Anugerah Pratama (PAP).

Dalam kasus berbeda, Polres Metro Jakarta Pusat (Polres Jakpus) juga sempat menangkap peserta PPDS di Universitas Indonesia (UI) yang diduga merekam seorang mahasiswi sedang mandi.Baca Juga: Nathalie Holscher Dapat Dukungan Netizen Usai Tolak Tuntutan Minta Maaf Bupati Sidrap

Terkait hal itu, Menteri Kesehatan RI (Menkes), Budi Gunadi Sadikin sangat menyesalkan kejadian tak etis itu terjadi di dunia kedokteran.

"Kami menyesalkan sekali, kejadian-kejadian yang berdampak, bukan hanya bagi peserta didik, tapi bagi masyarakat semua," ungkap Budi saat konferensi pers secara daring, pada Senin, 21 April 2025.Baca Juga: Satpol PP Mulai Tertibkan Bangunan Liar di Kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu

"Untuk itu, kami merasa harus ada perbaikan yang serius, sistematis, dan konkret bagi pendidikan program dokter spesialis ini," sambungnya.

Budi kemudian mengklaim, pihaknya akan mewajibkan para peserta PPDS untuk melakukan tes psikologis terlebih dahulu.Baca Juga: Curah Hujan Tinggi, Dinkes Minta Warga Kota Bengkulu Waspadai Penyakit DBD

Menkes RI itu menilai, hal tersebut agar dapat mengetahui kondisi kejiwaan dan kesiapan peserta PPDS untuk melakukan pendidikan dan melayani masyarakat.

"Saya minta transparansi rekrutmen ini dilakukan dengan baik. Jadi tidak ada lagi preferensi khusus kita salah pilih," terang Budi.Baca Juga: FGD DPD RI di FEB UNDIP: Rumuskan Arah Pembangunan Nasional

"PPDS di rumah sakit tidak dilakukan langsung oleh konsulen, tapi dilakukan oleh senior, sehingga ini tidak memberikan kualitas yang kita inginkan," tungkasnya.*

Tags

Terkini