Orasi Budaya Prof Suharnomo: “Budaya Kita Diintervensi K-Pop”

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 4 November 2024 | 10:57 WIB
Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof Suharnomo saat Orasi Budaya.  (Humas Undip)
Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof Suharnomo saat Orasi Budaya. (Humas Undip)


Semarang, SUARA PEMBARUAN – Tidak ada satupun yang tidak terpapar oleh budaya. Dalam ragam budaya, ada 3 hal yang paling utama diantaranya Artefact, Behavior, Core Value. Di era sekarang, budaya Indonesia tentu saja akan bersinggungan dengan budaya global.

“Kita memiliki Borobudur dan Prambanan, namun demikian intervensi budaya Indonesia lebih banyak daripada kita mengintervensi budaya orang lain,” ungkap Rektor Universitas Diponegoro Prof Suharnomo, dalam Orasi Budaya pada puncak perayaan Dies Natalis ke-59 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di ruang teater Gedung Art Center FIB Kampus UNDIP Tembalang, akhir pekan lalu.Baca Juga: Survei Terkini LSI Denny JA: Luthfi-Yasin 46,8%, Andika-Hendi 28,2%

Dalam pidato kebudayaan bertajuk “Meramal Masa Depan Indonesia: Sebuah Tinjauan Budaya,” Prof Suharnomo mengatakan bahwa K-Pop misalnya menjadi budaya yang digemari anak muda tidak hanya berkembang budaya (musik, film) tetapi juga teknologi dan akhirnya menjadi destinasi wisata utama.

“Jadi semua tidak terlepas dari kegiatan budaya ekonomi, teknologi dan kemampuan pariwisata fisik itu sendiri. Indonesia belum bisa menjadi eksportir budaya yang superior, kita masih kalah jauh,” tutur Prof Suharnomo.

Suharnomo menjelaskan bagaimana budaya bekerja, pisau analisis budaya meliputi definisi budaya nasional dan budaya nasional itu sendiri termasuk tentang adanya beda budaya beda prioritas. Begitu juga tentang Indonesia dimata ahli budaya mencakup manusia Indonesia, nilai – nilai budaya Indonesia dan nilai sosial budaya masyarakat Indonesia.Baca Juga: Pendapatan Jatim sampai Oktober capai Rp 15,7 Triliun

Pembahasan lainnya mengenai harapan untuk budaya Indonesia, kata dia, berdasarkan dua modal utama yakni pertama, modal sikap artistik – utilitarianis (padu padan sangat pandai dilakukan orang Indonesia). Kedua, uncertainty rendah (pemberani tidak mudah cemas. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemberani dan optimistis dan bangsa pejuang).

Pentingnya membangun budaya kepemimpinan yang kuat sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini.

“Budaya kepemimpinan yang kuat utamanya bagaimana good and strong leader atau pemimpin yang baik artinya pemimpin yang ada keteladanan, yang terlibat kepemimpinan yang menekan dan ditekan (coercive–cohesive leadership), harmoni dan belajar sepanjang hayat,” jelas Rektor UNDIP.Baca Juga: Soal Wacana Jokowi Jadi Jurkam, Ahmad Luthfi: Beliau Ikut Berikan Suport

Di akhir pidatonya, Prof Suharnomo menyebutkan bahwa bicara kebudayaan sebenarnya bicara masalah leadership nasional, kekuatan ekonomi nasional dan tentang kekuatan seorang pemimpin yang tidak bisa berdiri sendiri atau budaya bukanlah sesuatu yang terpisah – teralienasi.

Pentingnya menjadi strong culture, budaya yang kuat adalah representasi dari masyarakat yang kuat sebagai bangsa dan kokoh mencintai produk olah jiwa-raga bangsa tersebut.

Dekan FIB UNDIP Prof. Dr. Alamsyah, S.S., M.Hum. saat sambutan menyebutkan bahwa orasi kebudayaan ini sebagai awal dan bentuk ikhtiar FIB menjadi kiblat, rujukan, barometer, dan episentrum kebudayaan di Jawa Tengah. Sekaligus sebagai pemantik untuk mengugah lahirnya pemikiran bernas kebudayaan.Baca Juga: Ramaikan Pasar Burung Kartini Semarang, Ahmad Luthfi Sumbang Gantangan dan Bantu Retribusi

“Kampus ini diharapkan menjadi panggung lahirnya karya-karya budaya baik yang tangible maupun intangible,” ucapnya.

Prof Alamsyah turut menyampaikan apresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada peletak dasar/ pondasi kebaikan (founding father) yaitu mantan dekan, para guru besar, para dosen dan tendik FIB dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan FIB agar semakin baik, bereputasi, dan unggul. Terutama ucapan terima kasih mendalam atas kesediaan Rektor UNDIP menjadi pembicara pada orasi budaya Dies Natalis ke-59 FIB.Baca Juga: Sambil Ngopi, Ahmad Luthfi Ngobrol Bareng Tukang Cukur

“Terima kasih kepada Prof Suharnomo, jarang-jarang ada rektor yang berkenan bicara tentang kebudayaan. Kesediaan Rektor UNDIP menjadi pembicara menandakan perhatian beliau terhadap kebudayaan sangat serius. Pemikiran beliau tentang kebudayaan akan menuntun perjalanan panjang UNDIP sebagai institusi pendidikan besar dan terbaik di Jawa Tengah dan Indonesia. Wajarlah bila sikap dan pandangan UNDIP maupun FIB ke depan tentang kebudayaan sangat dinanti pemerhati budaya,” ujar Prof Alamsyah.Baca Juga: Tiba di Ndalem Notomihardjan, Ahmad Luthfi Ajak Warga Doakan Almarhumah Ibunda Jokowi

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X