Semarang, SUARA PEMBARUAN - Kenangan masa kecil di desa masih membekas kuat dalam ingatan Dr. Supari, ST, MT. Ia merasakan betapa sulitnya mengakses pendidikan yang layak. Setiap hari ia harus mengayuh sepeda onthel menembus jalan sempit dan berlumpur di antara persawahan, apalagi saat musim hujan. Sepedanya selalu penuh lumpur, dan dengan sabar ia bersihkan sambil berzikir sebagai bagian dari rutinitas harian.Baca Juga: DPD PDIP Jawa Tengah Gelar 18 Kegiatan Spesial Peringati Bulan Bung Karno
Supari menamatkan pendidikan dasar hingga menengah atas di kampung halamannya, Sragen. Ia tergolong siswa berprestasi dan berhasil diterima di SMA 1 Sragen, sekolah paling bergengsi di daerahnya. Hanya ia dan seorang teman yang lolos seleksi dari kampungnya.
Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas tak menyurutkan niatnya untuk menjadi insinyur. Semangat dan ketekunannya membuahkan hasil saat ia diterima di jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip). Di tengah keterbatasan sebagai mahasiswa rantau, ia mencari nafkah dengan memberi les privat. Tak disangka, kegiatan ini menumbuhkan ketertarikan untuk menjadi dosen. Ketika hasil skripsinya menarik perhatian dosen penguji, ia pun direkrut menjadi pengajar di Universitas Semarang (USM).Baca Juga: Menghitung Pertarungan Mathius Derek Fakhiri di Papua
“Saat ditawari jadi dosen, saya sempat minta pertimbangan orangtua, karena saya juga sudah bekerja di kontraktor. Akhirnya, saya memilih dosen atas saran mereka,” ujar suami dari Siti Choeriyah, SE.
Di USM, perjalanan kariernya cukup panjang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium, Sekretaris Jurusan, hingga Sekretaris Fakultas Teknik. Berbagai tanggung jawab juga pernah diembannya, mulai dari tim Monitoring dan Evaluasi, hingga Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Pada 2021, Supari dipercaya menjadi Rektor USM.Baca Juga: 267 Jamaah Haji Khusus Fatimah Zahra Diberangkatkan, 37 Gagal Berangkat Lewat Jalur Furoda
Meski sibuk, Supari tetap melanjutkan studi hingga jenjang tertinggi. Ia menyelesaikan Magister Teknik Elektro di UGM (1999–2001), lalu mengikuti program riset di Kumamoto University, Jepang (2009–2010), dan akhirnya meraih gelar Doktor dari ITS Surabaya pada 2012.
Prinsip hidup yang ia pegang teguh adalah “Sopo sing nandur pari, ora bakal ngunduh alang-alang”—siapa yang menanam kebaikan, tidak akan memanen keburukan. Kesuksesannya hari ini adalah buah dari kesabaran dan kegigihannya menghadapi tantangan hidup.Baca Juga: Kepala BKKBN Bengkulu : Penyuluh KB Harus Kuasai Ilmu Sales Marketing
Membawa USM Menjadi Kampus Berkualitas dan Inklusif
Sejak menjabat sebagai Rektor, Supari fokus pada peningkatan mutu akademik. Ia mendorong peningkatan jumlah dosen bergelar doktor dan guru besar. Hingga kini, USM telah memiliki 73 doktor dan 7 profesor. Ini menjadi bukti komitmen USM dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.Baca Juga: BGN Perkuat UMKM dan Masyarakat Sleman untuk Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
Selain kualitas, aksesibilitas juga menjadi prioritas. Supari menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh hanya dinikmati oleh kalangan mampu. USM, menurutnya, harus aktif menjemput calon mahasiswa berprestasi dari kalangan kurang mampu. “Kami punya komitmen menjangkau yang tidak terjangkau,” ujar Ketua Forum Santri Lintas Profesi ini.Baca Juga: Puncak Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Gus Ipul : Negara Hadir untuk Lansia
Komitmen ini sejalan dengan semangat para pendiri USM, yang mayoritas merupakan dosen Undip. Mereka prihatin melihat banyak lulusan SMA tak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan daya tampung Undip. Maka lahirlah Politeknik Semarang yang kemudian berkembang menjadi Universitas Semarang—kampus swasta yang dibangun dengan semangat negeri.
Tak heran, USM dikenal dengan julukan “Universitas Sangat Murah”. Bahkan ada yang menyebutnya “Universitas Samping Sawah”, karena lokasinya dahulu dikelilingi hamparan sawah. Kini, dengan banyaknya gedung megah, sebutannya berubah menjadi “Universitas Sangat Mewah”.Baca Juga: Wamenaker Kecam Pernyataan HRD soal Job Fair Hanya Formalitas: “Itu Kurang Ajar dan Harus Dipecat!”
Komitmen untuk pendidikan terjangkau diwujudkan melalui beragam beasiswa, seperti untuk siswa ranking 10 besar, berprestasi di bidang olahraga, hingga program bina lingkungan untuk warga sekitar. Ada pula akses program pemerintah seperti KIP Kuliah dan Bidik Misi.Baca Juga: Mengungkap Fakta Burung Garuda: Simbol Mitologis yang Jadi Lambang Negara Indonesia
USM juga berkontribusi besar dalam peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi. Berdasarkan data LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, USM merupakan PTS dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Kota Semarang. “Sebelum pandemi kami punya 22.000 mahasiswa, saat ini masih sekitar 20.000,” kata Supari.
Artikel Terkait
Soroti Tantangan Finansial dalam Pendidikan Dokter Spesialis, Menkes: Beban Berat bagi yang Bukan dari Keluarga Mampu
Sekolah Pascasarjana Unhas Bahas Pembukaan Prodi S2 Manajemen Pendidikan Kerjasama Kampus Jepang
Bengkulu Komitmen Wujudkan Pendidikan Gratis dan Berkualitas Untuk Semua
Sampoerna Foundation Lanjut Kerja Sama Pemkab Gowa Bantu Beasiswa Pendidikan
SEAAM Membuka Cakrawala Siswa Terhadap Pendidikan Riset Tingkat Global