InJourney Hospitality House Spesial Kemerdekaan: Perkuat Komitmen Para Penjaga Warisan Budaya

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:18 WIB
Peserta Injourney Hospitality House Dok. humas IDM
Peserta Injourney Hospitality House Dok. humas IDM

Menurutnya, keberadaan para penjaga warisan budaya memiliki posisi strategis karena cagar budaya pada dasarnya tidak dapat menyampaikan ceritanya sendiri kepada pengunjung. Karena itu, manusia yang berada di sekitarnya memiliki peran penting untuk menerjemahkan nilai, sejarah, dan proses pelestarian tersebut menjadi informasi yang dapat dipahami wisatawan.

“Batu itu tidak bisa berbicara. Kalian nanti yang membuat batu itu bicara. Ketika seorang juru pelihara sedang membersihkan dan ada wisatawan yang bertanya, misalnya, perlu dijelaskan bahwa batu-batu ini membutuhkan perawatan. Termasuk batu-batu di sekeliling candi yang posisinya belum pada tempatnya atau masih berserakan, itu juga tidak bisa berbicara. Kalian yang bisa menyampaikan. Para steller dan suker juga harus mampu menjelaskan,” jelasnya.

Salah satu juru pelihara Balai Konservasi DIY, Ida Prastiwi mengatakan bahwa sebagai juru pelihara, dirinya tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap kebersihan dan pemeliharaan cagar budaya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan wisatawan yang datang berkunjung. Materi storytelling dan pelayanan yang diberikan melalui IHH menjadi bekal untuk meningkatkan cara berinteraksi dengan wisatawan.

“Kami harus menguasai sejarah singkat candi agar bisa memberikan informasi kepada mereka. Kami juga berinteraksi dengan tamu. Kami belajar bagaimana menerima tamu, bagaimana bersikap ramah dan sopan sehingga tamu kami nyaman dan puas dalam berkunjung,” jelasnya.

Pemandu lokal di Keraton Ratu Boko Fitria Andarini menilai pelatihan IHH memberikan perspektif baru dalam mengemas informasi destinasi agar lebih menarik bagi wisatawan. Fitria mengapresiasi pendekatan IHH yang menurutnya dekat dengan perkembangan perilaku wisatawan masa kini. Materi yang disampaikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan tentang destinasi, tetapi juga bagaimana pemandu membangun komunikasi dan menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengunjung.

“Kemasan baru yang saya dapatkan dari pelatihan ini sangat menarik. Narasumber IHH yang berasal dari generasi Z mengikuti perkembangan zaman, termasuk dari segi penggunaan bahasa dan bagaimana cara kita melayani tamu. Kiat-kiat storytelling yang baik dan menarik bagi pengunjung, terutama bagi kami sebagai pemandu wisata, sangat penting. Banyak hal yang akan saya perbaiki lagi dari apa yang sudah saya dapatkan di sini,” ujar Fitria.

Penguatan kemampuan hospitality juga dirasakan oleh para seniman yang mendukung pengalaman wisata budaya di Kawasan Candi Prambanan. Anom Hartoyo Jutawijaya Kusuma, seniman yang beraktivitas di Sendratari Ramayana Prambanan mengatakan bahwa materi yang diperoleh melalui IHH dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pengalaman penonton dalam pertunjukannya.

“Ini menjadi bekal bagi kami untuk diterapkan dalam pementasan Ramayana Ballet Candi Prambanan. Dengan ilmu yang kami dapatkan, kami juga bisa mengaplikasikannya kepada teman-teman agar pengunjung dan penonton dapat semakin menikmati pelayanan yang kami berikan,” jelas Anom.

IHH Edisi Spesial Kemerdekaan menegaskan upaya menjaga warisan budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan kualitas manusia yang menjadi bagian dari ekosistem destinasi. Para juru pugar, juru pelihara, suker, pemandu wisata, dan seniman tidak hanya menjaga keberlanjutan fisik maupun nilai budaya, tetapi juga menjadi penghubung antara warisan masa lalu dengan generasi masa kini dan wisatawan yang datang dari berbagai penjuru.

Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan destinasi yang semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus meneruskan nilai kemerdekaan melalui kerja nyata, yaitu dengan menjaga warisan budaya, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi setiap pengunjung.

“Kami berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sekaligus memperkuat kolaborasi antar-pemangku kepentingan dalam mewujudkan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Karena ketika kita berbicara tentang destinasi warisan budaya, pengalaman wisatawan tidak hanya dibentuk oleh apa yang mereka lihat, tetapi juga oleh bagaimana mereka diterima, dilayani, dan diajak memahami cerita di balik warisan budaya tersebut,” tutup Indung Purwita Jati.

Halaman:

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X