opini

Trump dan Perang Ukraina

Kamis, 14 November 2024 | 17:17 WIB
Ali Lubis

Negara negara sekutu Amerika di Eropa yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Trans Atlantik yaitu NATO, agak khawatir dengan kebijakan luar negeri baru yang akan diterapkan oleh Trump dalam penyelesaian perang tersebut dan dipicu kekhawatiran atas sikap agresif Rusia dalam perluasan wilayah, dimana pemicu perang Ukraina Rusia ini adalah yang diawali dengan aneksasi Krimea yang sudah menjadi wilayah teritorial Ukraina dan kejatuhan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich ( 2010-2014 ) yang lebih condong ke Rusia makin menimbulkan kekhawatiran bagi Rusia karena telah kehilangan sekutu utamanya di Ukraina.

Kejatuhan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich oleh mahasiswa pro Barat menyebabkan konflik didalam pemerintahan dan parlemen Ukraina dan terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu yang pro-Uni Eropa dan kubu yang pro-Rusia. Pihak yang pro-Uni Eropa berasal dari masyarakat Ukraina daratan, sedangkan pihak pro-Rusia berasal dari masyarakat Ukraina pesisir ( Krimea ).

Baca Juga: Ahli Waris Peserta BPJS Ketenagakerjaan Terima Santunan Ratusan Juta Rupiah

Campur tangan Rusia atas permasalahan dalam negeri Ukraina didasarkan pada kepentingan politik, pertahanan dan ekonomi, dimana letak geopolitik Krimea dan Ukraina yang strategis ini ingin dimanfaatkan oleh Rusia dengan menjadikan Ukraina sebagai buffer zone untuk mengantisipasi setiap kemungkinan tekanan militer NATO terhadap Rusia , atau mungkin untuk mengulang kembali sejarah Kekaisaran Rusia atas wilayah tersebut dengan atau bernostalgia kejayaan Era Uni Sovyet sebagai pemimpin Blok Timur.

Baca Juga: 3.612 Anggota KPPS di Kota Bengkulu Ikuti Bimtek Kesiapann Pilkada 2024

Doktrin First American yang diagung agungkan sebagai spirit of nation rakyat Amerika ditengah mendorong ambisi rakyat Amerika untuk menjadikan Amerika sebagai satu satunya negara adi kuasa di tengah dunia yang multipolar , bahkan kerap memposisikan diri sebagai polisi dunia. 

Keinginan NATO yang dipimpin oleh Amerika untuk memperluas keanggotaan mereka di Eropa bisa menjadi indikator agenda tersembunyi Amerika dalam memperluas pengaruhnya di Eropah Timur, dan dibuktikan dengan masuknya Albania, Bulgaria, Hungaria, Polandia, Republik Ceko, Slowakia, Rumania, Lithuania, Latvia, dan Estonia menjadi anggota NATO dan mereka semua dulu bekas anggota Pakta Pertahanan Warsawa di Era Uni Sovyet.

Baca Juga: Bareng Chef Bobon Santoso, Ahmad Luthfi Bikin Mukbang di Rusun Bandarharjo Semarang

Penolakan Ukraina atas perlakuan Rusia yang menggerogoti kedaulatan Ukraina dengan cara menggunakan isu sejarah, dan isu primordial , memicu pemerintahan Ukraina yang didominasi masyarakat daratan mulai mendekat ke Eropa Barat dan Amerika, dan Ukraina yang dipimpin oleh presiden Volodymyr Zelenskyy akhirnya mendaftar untuk menjadi anggota pakta petahanan NATO musuhnya Rusia, dan bak gayung bersambut Amerika dan Sekutu sekutu Eropa nya langsung mendukung keinginan tersebut, namun keinginan Ukraina membuat marah Putin karena jika keinginan itu terjadi, maka hal tersebut dianggap oleh Rusia berbahaya dan dapat mengancam kedaulatannya nanti dan Rusia beranggapan, dengan menerima Ukraina sebagai anggota NATO Amerika secara langsung hendak mendekati halaman depannya dan menjadikan Ukraina sebagai proxynya. Rusia yang merasa terancam , akhirnya mengambil tindakan gerak cepat dengan lebih dulu menginvasi Ukraina.

 

Akan tetapi dari perspektif lain bahwa perang yang sudah berlangsung 2 tahun lebih itu , selain kepentingan geopolitik, pertahanan dan ekonomi , sejatinya perang tersebut terbukti dijadikan sebagai arena uji kecanggihan senjata antar beberapa negara seperti Amerika, Rusia, Jerman, Inggris, Prancis, Iran, Turky.  

Amerika dengan sekutu Eropa nya juga tidak bersedia ikut bertempur secara langsung digaris depan membela Ukraina karena takut terhadap ancaman Rusia, dan jika keterlibatan langsung tersebut dilakukan sama saja Amerika dan sekutunya mendeklarasikan perang kepada Rusia dan dibenak Amerika dan beberapa negara Eropa Barat yang tidak satu suara juga, dengan makin meluasnya perang ini dapat menggangu stabilitas kawasan dan kemungkinan terburuk dapat memicu perang dunia. Perkembangan terakhir, Korea Utara yang telah menandatangani perjanjian kerjasama pertahanan dengan Rusia sudah mengirim 10.000 tentaranya untuk ikut membantu tentara Rusia bertempur di garis depan. (RMOL : 13 Nov 2024).

Baca Juga: Jusuf Kalla  Sambut Positif Kehadiran Rumah Sakit Bertaraf Internasional

Pertanyaannya, mengapa Perserikatan Bangsa Bangsa tidak bisa mengakhiri perang ini, jawabannya : pertama dikarenakan aturan main dalam mengambil keputusan penting ( Resolusi) di forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa masih memakai format lama, dimana 5 negara pemenang Perang Dunia Ke II yaitu Amerika Serikat, Inggris, RRC, Rusia, Prancis oleh Piagam PBB diberikan kursi permanen dalam Dewan Keamanan dan kelima negara tersebut memiliki hak istimewa yakni Hak Veto, Kedua : ketika terjadi konflik kepentingan diantara kelima negara pemegang Hak veto tersebut, maka Hak Veto tersebut akan dimanfaatkan.

Walaupun dunia saat ini multipolar, suka atau tidak suka nasib dunia saat ini masih ditentukan oleh 5 negara pemegang Hak Veto tersebut. 

Halaman:

Tags

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB