Tentu, para penguasa boleh berdalih soal prosedur hukum, stabilitas politik, atau keterbatasan anggaran. Tetapi semua itu hanyalah ilusi bila suara masa dan mahasiswa memang sengaja dibungkam. Prosedur bukan untuk membatasi namun untuk mempermudah langkah. Stabilitas politik bukan untuk mengebiri kebebasan melainkan untuk menjamin diperolihnya kebebasan. Mengabaikan suara masa dan mahasiswa sama halnya dengan menyiapkan generasi bisu yang apatis, generasi yang tak lagi peduli ketika rumah besar ini benar-benar runtuh.
Maka, publik luas: dosen, guru, pekerja, petani, buruh, dan siapapun yang mencintai negara ini harus berani sama. Suara masa dan mahasiswa bukan ancaman, tetapi pengingat. Mereka bukan lawan negara, melainkan alarm moral bangsa. Jika kita membiarkan alarm ini mati, maka yang tersisa hanyalah keheningan yang menakutkan, keheningan bangsa yang sedang menuju keruntuhan.
Peradapan bangsa ini tidak dibangun oleh kursi-kursi kekuasaan, tetapi oleh keberanian moral untuk mendengar suara kritis membangun. Penguasa tidak perlu menaruh kecurigaan berlebihan atasnya, karena yang sedang mereka lakukan adalah mengetuk, mengingatkan, atas dinding rumah besar kita yang retak.*
Penulis adalah guru dan aktivis Gerakan Jalan Lurus