Oleh: Hartono Sri Danan Djoyo
Indonesia itu rumah besar. Jika dilihat dari umurnya mestinya indah menawan terlihat oleh pandangan mata. Usia tak lagi muda, namun masih jauh dari kata tua. Takdir akan menuntun dirinya untuk giat bersolek menampakkan kemolekan rupa. Namun sayang, dia dirawat oleh orang yang salah. Kini, keadaan rumah itu begitu memprihatinkan.
Retakan-retakan mulai menganga di dinding. Catnya mengelupas, fondasinya keropos, dan atapnya bocor ketika hujan deras. Anehnya, para orang tua penghuni rumah itu justru sibuk menghitung kursi ruang tamu, memperdebatkan warna gorden, dan membagi kue ulang tahun. Di luar, anak-anak mereka dibiarkan berteriak-teriak, “Hei, rumah kita retak! Mari kita perbaiki bersama!”. Alih-alih mendengarkan dan memintanya masuk ke dalam rumah, sesekali para orang tua itu justru melemparinya dengan bungkus-bungkus kue “tart” dan botol-botol anggur yang telah mereka kosongkan.
Tuntutan 17+8
Metafora sederhana itu menggambarkan situasi bangsa saat ini. Gelombang masa kembali memenuhi jalan dengan tuntutan 17+8. Sebuah paket suara hati yang lahir bukan dari ruang seminar, melainkan dari pergumulan nyata mereka dengan harga-harga yang melambung, demokrasi yang merosot, dan keadilan yang kian menyusut. Perlahan namun pasti, cahaya harapan mereka lihat meredup; tak menampakkan gairah untuk menerangi kehidupan. Merasa tak dihiraukan, masa pendemo itu menuliskan bait-bait kekesalan mereka di aspal jalan raya: pahit, getir, tapi jujur.
Ironi muncul ketika para penguasa merespon dengan wajah dingin, angkuh, dan bahkan sinis. Mereka melihat aksi masa hanya sebagai gangguan lalu lintas, bukan sebagai alarm moral. Bahkan, oleh mereka masa yang tumpah di jalan hanya dipandang sebagai kelompok kecil teroris dan anarkhi. Mereka gagal membaca sejarah bahwa ketika “sirine” masa meraung, itu merupakan pertanda bahwa ada yang salah dalam arah kapal bangsa. Dari 1966, 1998, hingga kini; dengan dipelopori oleh mahasiswa, masa sigap menghindarkan kapal dari benturan karang.
Ketika para mahasiswa membuat paket Tuntutan 17+8, paket itu sesungguhnya bukan sekadar deret angka kosong. Ia adalah daftar luka. Ada 17 tuntutan yang merentang dari soal korupsi, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga pengkhianatan terhadap demokrasi. Delapan tuntutan lain menyorot tajam kebijakan ekonomi, HAM, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Benar, bahwa angka – angka itu hanyalah symbol. Namun para penguasa tidak boleh merutup mata dan telinga, dan harus membaca bahwa di dalam symbol itu mereka menulis pesan “menolak untuk diperlakukan sekadar sebagai penonton sejarah.
Jangan Bersandiwara
Sayangnya, elite politik lebih suka bermain sandiwara. Mereka menutup telinga dengan dalih stabilitas. Mereka lupa bahwa stabilitas tanpa keadilan hanya ilusi. Mereka menutup mata dengan alasan pembangunan. Mereka abai terhadap ajaran bahwa pembangunan tanpa arah moral hanyalah jalan lurus menuju kehancuran. Elit berdrama di panggung politik ini, sementara masa dan mahasiswa diposisikan sebagai penonton. Mereka lupa bahwa para siswa dan mahasiswalah pewaris sah rumah besar bernama Indonesia.
Satire terbesar justru lahir dari respons pemerintah dan DPR. DPR menjanjikan dialog, namun pada saat yang sama bersama pemerintah menyiapkan barikade polisi. DPR dan Presiden juga (kadang) mengundang perwakilan masa ke istana, tetapi kompak mengabaikan substansi tuntutannya. Mereka tidak belajar, bahwa menutup telinga terhadap masa dan mahasiswa sama artinya dengan menutup telinga terhadap masa depan.
Kita sedang mempertaruhkan wajah peradaban kita sendiri. Angka 17+8 merupakan angka symbol, bukan angka kosong. Jika masa dan mahasiswa menumpahkannya di jalan, maka itu bukan kebisingan biasa, melainkan somasi terhadap pemimpin bangsa dalam menjaga rumah demokrasi.
Rumah demokrasi tidak boleh, dan bahkan sengaja dibiarkan runtuh. Posisi miringnya hars kembali ditegakkan dan retakan yang membahayakan harus segera ditambal. Yang berada dalam kekuasaan harus berani melakukan koreksi diri karena pemakluman atas kondisinya bisa terlihat dari dalam atau luar kekuasaan.
Artikel Terkait
Prabowo Minta Kapolri Naikkan Pangkat Polisi yang Jadi Korban Kericuhan Demo
Aksi Demo Ribuan Mahasiswa di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu Berlangsung Tertib dan Damai
Ferry Irwandi Dilaporkan TNI, Publik Ingat Ucapannya soal Penangkapan Intel di Aksi Demo
Nepal Membara: Demo Besar Pecah, Jurang Kaya-Miskin Jadi Pemicu Utama
Dari Skandal Korupsi hingga Pemblokiran Medsos, Begini Awal Gejolak Demo Berdarah di Nepal