Protein Simbolik
Logam baki baru wadah MBG kelu berbicara protein. Potongan tahu dan sedikit porsinya sebatas menyiratkan symbol, bukan nutrisi yang memadai. Sepotong lauk terlihat oleh mata samar, antara ikan atau ayam, menguatkan kesan bahwa ini "menu" hanya sebagai checklist etika, bukan investasi generasi.
Protein adalah blok bangunan tubuh. Ia vital untuk pertumbuhan otot, perbaikan sel, dan fungsi kognitif. Namun, dalam baki itu, protein hanya hadir simbolik dalam bentuk yang paling minimalis. Tahu dan daging seolah-olah hanya mengisi kolom "lauk" dalam daftar menu. Wisnu mengingatkan bahwa malnutrisi protein, bahkan dalam tingkatan ringan sekalipun, dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan pada anak-anak.
Indonesia tidak boleh abai pada mimpinya sebagai negara mashur karena peradabannya. Untuk itu Menkeu Sri Mulyani harus diingatkan bahwa MBG adalah misi Presiden untuk membangun generasi. Kita tidak boleh membiarkan bangsa ini tumbuh dengan tenaga setengah, rendah diri dan selalu kalah dalam semua kompetisi global.
Pendidikan Berbahan Bakar Penuh
Pendidikan tidak cukup hanya lewat buku dan layar. Ia membutuhkan bahan bakar nyata: nutrisi yang benar-benar cukup. Otak kekurangan nutrisi akan lambat bergerak. Konsentrasi yang buruk, daya ingat yang lemah, dan kesulitan memecahkan masalah seringkali tidak hanya disebabkan oleh kurangnya stimulasi, tetapi juga oleh kurangnya asupan gizi yang memadai. Memberi makan dengan niat baik adalah awal yang patut diapresiasi, untuk itu yang tersaji berikutnya harus segera mengalami revisi.
Indonesia harus serius menata menu anak-anak -- dari variasi, porsi, hingga cita rasa. Anak-anak yang akan menjadi penjamin hari tua kita tidak boleh tumbuh dalam pengasuhan dengan pikiran dan tenaga setengah.
Presiden harus tegas memerintah Menteri Keuangan merevisi sajian MBG. Nasi, tiga anggur, sayur pucat, dan tahu kecil yang dipotong-potong tidak cukup untuk menggapai asa bangsa. Mereka cermin tidak ideal akan keteguhan kita dalam mencetak generasi. Kalau keseimbangan gizi adalah harmoni antara warna, rasa, dan nutrisi, maka sajian ini masih sebatas draf kasar makanan bergizi yang dicita-citakan Presiden. Ia perlu revisi besar secepatnya. Niat baik yang tercatat harus menyentuh esensi. Presiden dengan pemerintahannya harus tampil gagah mengujudkan pondasi kecerdasan dan kekuatan bangsa sebagaimana yang dia janjikan.
Hartono Sri Danan Djoyo, Gerakan Jalan Lurus Indonesia