Keempat, pahami emosi, bukan hanya data. Publik tidak bergerak karena angka, tapi karena rasa. Selama komunikasi negara dingin dan teknokratis, ia akan selalu kalah oleh narasi yang lebih manusiawi—meskipun belum tentu benar.
Jika semua ini tidak berubah, maka siapa pun yang ditunjuk - sekuat apa pun kapasitasnya - akan tetap terjebak dalam sistem yang sama. Dan pada akhirnya, akan diganti lagi.
Karena masalahnya memang bukan orangnya.
Masalahnya adalah negara belum benar-benar sadar bahwa medan perangnya sudah berubah.
Dan dalam perang baru ini, yang tidak memahami algoritma, bukan hanya kalah narasi—tapi juga kehilangan kepercayaan. ***
Agus "Zoelist" Sulistriyono adalah CEO Promedia Group
Artikel Terkait
Algoritma sebagai Kekuasaan Baru: Demokrasi dalam Cengkeraman Platform Digital
Riset Undip Didorong Jadi Solusi Nyata, Wakil Rektor: Kampus dan Media Sama-sama Menghadirkan Kebenaran
OJK Terbitkan Panduan Media Sosial Perbankan Guna Perkuat Tata Kelola Digital Industri Bank
Pemprov dan LEKAD Perkuat Literasi Media Dikalangan Pelajar Bengkulu
JMSI Bengkulu Komitmen Bangun Ekosistem Media Siber Profesional, Beretika, dan Berkualitas