Rumah besar Indonesia kini retak di sana-sini. Retakan itu hanya bisa diperbaiki bila penjaga dan penghuni, TNI dan rakyat, bekerja sama, dan bukan saling menuding. Aktivis seperti Ferry Irwandi bukanlah anarkhi yang hendak meruntuhkan rumah, melainkan penghuni yang gelisah karena dinding rumahnya retak.
Dan syukurlah, sebelum lembar dakwaan diajukan, dan sebelum palu hakim diketuk, TNI dan Ferry akhirnya memilih jalan yang lebih bijak: berdamai. Jalan damai itu bukan tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan nyata. Dalam perdamaian tersebut terdapat sebuah pengakuan bahwa kehormatan tentara tidak akan runtuh hanya karena kritik seorang rakyat jelata. Terdapat pula di dalamnya suara rakyat tidak akan hilang hanya karena rasa takut.
Dengan perdamaian itu, luka bisa diobati, asa dan rasa saling percaya bisa dirajut kembali. TNI dan bangsa ini bisa melangkah lebih mantap menghadapi musuh sejatinya. Karena sejatinya, yang dibutuhkan oleh Indonesia bukanlah kemenangan semu yang ekslusif dan hampa, melainkan persatuan kokoh yang memberi harapan.*
Hartono Sri Danan Djoyo, adalah guru dan aktivis Gerakan Jalan Lurus.
Artikel Terkait
Sindiran Tajam Ferry Irwandi untuk Deddy Corbuzier soal Vonis Tom Lembong: “Delapan Tahun Lagi, Siapa Tahu?”
Ferry Irwandi Dilaporkan TNI, Publik Ingat Ucapannya soal Penangkapan Intel di Aksi Demo
Tunggu Hasil Proses DPR RI Soal Penarikan TNI Non Organik, Warga Jayawijaya Tetap Tenang
TNI Angkatan Darat Programkan Bengkulu Jadi Kodam dan Tambah Korem
Ferry Irwandi dan TNI Sepakati Rekonsiliasi, Perselisihan Berakhir Tanpa Proses Hukum