Oleh: Hartono Sri Danan Djoyo
Rakyat jelata di negeri ini sudah lama hidup dalam kepasrahan. Banyak kondisi yang memaksa mereka jatuh pada kondisi harus menerima keadaan. Mereka melawan harga beras yang tak terkendali, biaya pendidikan yang menjerat, dan pelayanan kesehatan yang masih mewah bagi sebagian besar. Dalam keadaan seperti itu, suara kritis relawan menjadi hiburan yang mereka tunggu. Relawanlah yang membuat resonansi suara jeritan rakyat hanya melebar menembus ruang hampa. Di titik itulah muncul orang-orang seperti Ferry Irwandi dan aktivis lainnya. Mereka mewakafkan diri mereka di barisan depan perjuangan membangunkan yang telah pasrah. Tak ada yang mereka andalkan, sekedar berbekal suara moralitas. Mereka bukanlah pasukan dengan tank atau meriam; mereka hanya punya pena, mimbar kecil, atau akun media sosial.
Suara Iwandi menjadi alarm bagi penguasa, dan sekaligus pengingat bagi institusi negara bahwa kesejahteraan rakyat bukan sekadar slogan. Kesejahteraan rakyat merupakan amanat konstitusi dan kekuasaan yang dipinjamkan kepada penguasa merupakan kelengkapan untuk mengujudkanya. Penguasa tak boleh menutup mata dan telinga.
Kritik bukan musuh, melainkan stamina penambah kekuatan untuk menjalankan amanah.
Tak ada yang boleh terluka apalagi terancam karena teriakan Ferry, namun ketika ada yang merasakan, apalagi institusi negara, seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI); maka sesungguhnya yang retak bukanlah nama baiknya, melainkan rasa percaya diri dan kebijaksanaannya. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan. Oleh karena itu, TNI harus tampak gagah perkasa, penuh wibawa, dan identik dengan kedaulatan.
Ketika laporan TNI terganjal dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memperkarakan Ferry Irwandi, maka hal tersebut harusnya cukup menjadi alasan untuk berhenti berperkara. TNI tidak boleh menyimpan semangat berseteru dengan rakyat yang telah memberinya senjata. Dugaan pencemaran nama baik harus dikubur karena, berdasarkan putusan, institusi harus steril dari persepsi yang hanya dimiliki oleh pribadi manusia.
Ferry hanyalah warga sipil dengan suara kritis, bukan perancang makar apalagi penggerak pasukan. Ia hanya menyuarakan keresahan, bukan ancaman. Maka yang lebih perlu dilakukan TNI adalah membuka mata dan telinga bahwa Ferry bukan musuh negara. Ferry harus didudukkan sebagai cermin kecil dari keresahan rakyat yang mestinya dilihat dan didengar.
Musuh Sejati Ada di Luar Pagar
Sejarah bangsa ini maupun dunia berulang kali memberi bukti bahwa institusi yang terlalu mudah tersinggung justru akhirnya jatuh tersandung oleh rakyat yang dianggapnya kecil. Di eranya Orde Baru tampak gagah perkasa dengan tentara di mana-mana. Tetapi, akhirnya tumbang oleh mahasiswa dan rakyat biasa yang hanya bersenjatakan doa, poster, dan suara lantang. Gandhi di India mengguncang Imperium Inggris bukan dengan bedil, melainkan dengan gerakan damai.
Martin Luther King di Amerika menundukkan wajah rasisme bukan dengan senjata, melainkan dengan mimbar moral. Dan terbaru, Perdana Menteri Nepal K.P. Sharma Oli turun turun tahta setelah semangat perlawanan rakyat berkobar karena pidato anak SMA Abiskar Raut.
TNI harus belajar dari satire sejarah. TNI harus menyadari bahwa rumah besar Indonesia dibangun dengan darah dan tetes air mata para pejuang. Kini TNI harus menjadi penjaga rumah ini, menjadi dinding yang kokoh agar tidak roboh diterpa badai. Oleh karenanya, meski karena alasan apapun, TNI tidak boleh menempelkan plakat “musuh” di dahi penghuninya.
Musuh sejati bangsa ini jelas: korupsi yang menggerogoti sendi-sendi negara, narkoba yang menghancurkan generasi, intervensi asing yang mengincar sumber daya, dan disinformasi terorganisasi yang melemahkan persatuan. Musuh itu nyata, berbahaya, dan jauh lebih patut diperangi oleh institusi negara seperti TNI.
Kebesaran Jiwa sebagai Jalan Keluar
TNI adalah saudara rakyat. Oleh Pertiwi kita diajarkan bahwa tentara lahir dari rahim rakyat, dibesarkan oleh keringat rakyat, dan mengabdi untuk rakyat. Maka, perkarakanlah musuh bangsa yang sebenarnya, bukan aktivis yang bersuara lantang demi rakyat. Biarkan Ferry Irwandi tetap bicara; toh, suaranya tidak akan pernah bisa menembus baja tank. Tetapi harus didengar, karena ia bisa menembus hati nurani pemilik dan pengendali persenjataan lapis baja.
Jika TNI ingin dihormati, cara terbaik bukanlah dengan menuntut kritik, melainkan dengan menunjukkan kebesaran jiwa. Keagungan institusi militer tidak diukur dari seberapa mudah ia tersinggung, tetapi dari seberapa besar ia mampu menahan diri, mengakui kekurangan, dan berdiri gagah tunai melindungi rakyat tanpa pandang bulu.
Artikel Terkait
Sindiran Tajam Ferry Irwandi untuk Deddy Corbuzier soal Vonis Tom Lembong: “Delapan Tahun Lagi, Siapa Tahu?”
Ferry Irwandi Dilaporkan TNI, Publik Ingat Ucapannya soal Penangkapan Intel di Aksi Demo
Tunggu Hasil Proses DPR RI Soal Penarikan TNI Non Organik, Warga Jayawijaya Tetap Tenang
TNI Angkatan Darat Programkan Bengkulu Jadi Kodam dan Tambah Korem
Ferry Irwandi dan TNI Sepakati Rekonsiliasi, Perselisihan Berakhir Tanpa Proses Hukum