Di Tengah Badai dan Kesunyian: Sebuah Bisikan Jiwa

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 28 Juli 2025 | 15:33 WIB

 

Oleh : Hartono Sri Danan Djoyo


Ada kalanya hidup menyeret kita ke dalam lorong gelap, sekedar mempertemukan dengan suara hati yang berbisik lirih. Di sanalah, keteguhan memegang prinsip menjadi satu-satunya pelita. Ia bukan merupakan pilihan, melainkan panggilan jiwa yang tak bisa ditawar.

Empunya hati akan berbisik “Ini pilihanku, meski sunyi, tanpa tepuk tangan, dan bahkan sekedar “pengertian”. Sebuah jalan yang ditempuh bukan karena ingin dipuja, melainkan karena keyakinan mendalam akan kebenaran yang mengalir dalam darah.


Jiwa yang kokoh tak gentar dijauhkan dari hiruk pikuk dukungan dan tak pula tergoda oleh fatamorgana kenyamanan sesaat. Ia berpegang pada kompas moralnya, sekalipun dihadapkan pada pengorbanan yang perih, serta bahkan penolakan, dari rekan-rekan, yang menyakitkan.

Mereka yang teguh memahami, nilai sejati sebuah hidup tak diukur dari apa yang didapatkan, melainkan dari bagaimana mereka hidup, memperjuangkan apa yang diyakini benar, dan meninggalkan moral perjuangan abadi menembus batas waktu.

Belajar dari Yang Menyala


Dalam setiap zaman, selalu ada jiwa-jiwa yang memilih jalan sunyi, menyalakan obor prinsip di tengah kegelapan. Mereka adalah pahlawan pejuang sesungguhnya, yang keteguhannya menginspirasi, bahkan ketika dunia tak mau mengerti.

Ketika saat ini meng “claim” ikut berjuang, penulis (dalam perjuangannya) hanyalah mencontoh langkah kecil dari kebesaran etos mereka yang tak pernah padam.


Butet Manurung si lentera hutan

Butet mendirikan Sokolah Rimba, sebuah sekolah non-formal untuk anak-anak suku Anak Dalam di Jambi. Ia berjuang untuk memberikan akses pendidikan yang sesuai dengan kearifan lokal mereka. Sebelum mata tertutup, Butet harus memastikan bahwa anak-anak adat tidak buta huruf dan memiliki bekal pengetahuan untuk menghadapi dunia luar sembari menjaga identitas budaya mereka.


Gamal Albinsaid penggagas gerakan Indonesia Medika.

Gamal memperkenalkan konsep klinik asuransi sampah di Malang. Menyadari bahwa eksim dan batuk masih menjadi ancaman saudara-saudaranya di kota-kota lain di tanah air, dia kemudian menyebar gerkanya ke berbagai daerah terpencil.

Ia berjuang agar masyarakat miskin di daerah terpencil dapat mengakses layanan kesehatan dengan membayar menggunakan sampah. Tempelan steteskop Gamal di badan saudaranya berarti menyembuhkan luka kulit dan sekaligus luka lingkungan karena sampah yang membuat sesak dada.


Swietenia Puspa Lestari, pejuang lingkungan dan konservasi.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X