nasional

Ibu… Ibu di Mana?” — Ratapan dan Luka dari Banjir-Longsor Sumatra 2025

Jumat, 5 Desember 2025 | 13:49 WIB

Mereka: ibu, ayah, anak, pasangan — manusia dengan mimpi dan masa depan yang tak pernah sempat tumbuh.

Kisah-kisah di Antara Puing: Tangisan yang Tak Tergantikan

Baca Juga: DWP ITS Salurkan 7.500 Nasi Bergizi Gratis Kepada Mahasiswa

Di antara reruntuhan rumah dan sisa perabot, hidup kisah nyata yang tak bisa dilupakan:

* Seorang anak kecil, mungkin belum genap 8 tahun, berdiri terpaku di tepi tanah longsor. Sendalnya di jalan. Tangannya menggenggam kain — sendal ibunya. Matanya kosong. Ia hanya bisa berkata:

“Ibu… aku di sini, Bu…”

Ibunya terkubur di bawah tanah. Tak ada pelukan. Tak ada jawaban. Hanya harapan yang terkubur bersama lumpur.

* Seorang ayah tua menggali dengan tangan berdarah — harap menemukan anaknya, meski peluang nyawa sudah tipis.

Ia tak berhenti, karena cinta ayah tak mengenal logika. Hingga ketika tubuh kecil itu ditemukan tanpa nyawa, ia memeluknya terlalu lama. Seolah berharap sebagian dari dirinya bisa mengembalikan kehidupan.

* Di posko pengungsian, seorang istri muda berdiri tiap petugas membuka kantong jenazah. Ia menatap lemas, bertanya:

> “Bang… itu kamu…?”

Wajah-wajah berbeda muncul, tapi tak ada yang miliknya. Foto pernikahan basah oleh hujan dan air mata. Cinta itu lenyap dalam sekejap — bersama gemuruh air dan tanah yang runtuh.

* Dan seorang ibu, menggendong kain gendongan kosong. Tangannya mengayun pelan, seperti membisik:

“Bobo, Nak… bobo…”

Padahal di dalam gendongan itu tak ada siapa-siapa. Hanya kekosongan. Doa yang terus dipanjat, berharap keajaiban — walau hanya debu dan sunyi yang kembali menjawab.

Halaman:

Tags

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB