Ibu… Ibu di Mana?” — Ratapan dan Luka dari Banjir-Longsor Sumatra 2025

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Jumat, 5 Desember 2025 | 13:49 WIB

Baca Juga: Wagub Mian Dukung Kegiatan Natal Pemuda dan Pelajar se-Provinsi Bengkulu

Bencana Bukan Sekadar Alam — Tapi Dampak dari Perusakan Lingkungan

Para pengamat lingkungan menyebut: bencana ini bukan semata hujan deras.

Ini buah dari kerusakan alam — deforestasi, izin tambang dan konversi lahan atas nama keuntungan.

Penebangan hutan, perusakan wilayah tangkapan air, hilangnya penyangga alami — membuat Sumatra makin rentan saat hujan datang.

Ketika hujan ekstrem turun, hutan yang sudah “miskin akar”, tanah yang kehilangan daya serap, sungai yang meluap — semuanya berubah jadi bom waktu.

Banjir dan longsor kali ini bukan kebetulan. Ini peringatan — keras, pedih, dan mematikan.

Ketika Tangisan Lebih Jujur daripada Statistik & Rapor Kebijakan

Di ruang konferensi pers, pejabat memaparkan statistik: korban, jumlah bantuan, alokasi dana, janji pemulihan.

Baca Juga: Korem 041 Gamas Bengkulu Salurkan Bantuan Kemanusian Bagi Korban Banjir Sumbar

Tapi di desa-desa yang hancur — tangisan itu lebih jujur:

Anak yang memanggil ibu.

Ibu yang mendekap gendongan kosong.

Ayah yang menggali tanah putus asa.

Istri yang terus mencari suami.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X