Ia menambahkan, tekanan terhadap industri legal tidak hanya datang dari sisi fiskal, tetapi juga dari perubahan perilaku konsumen. Masyarakat kini lebih sadar akan pentingnya kesehatan, dan rokok perlahan kehilangan daya tarik sosialnya.
“Dulu rokok menjadi simbol gaya hidup, sekarang justru dipandang negatif,” ujarnya.
Indrawan menukil data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penurunan signifikan konsumsi tembakau secara global—dari satu banding tiga orang dewasa pada tahun 2000 menjadi satu banding lima pada 2022.
Menurutnya, tren tersebut menandakan masa depan industri hasil tembakau tidak lagi semegah masa lalu. “Bertahan hanya dengan produk berbasis tembakau adalah strategi yang sudah usang,” katanya.
Ia menyarankan agar pelaku besar industri ini mulai melakukan diversifikasi ke sektor yang lebih berkelanjutan seperti teknologi, kesehatan, atau energi terbarukan.
“Bayangkan jika perusahaan tembakau berinvestasi di bidang kesehatan. Terdengar paradoksal, tapi justru bisa menjadi pilar ekonomi baru yang kuat dan stabil,” tutup Indrawan.