“Dari akumulasi pengkhianatan politik ini, rakyat menyampaikan resolusi #BubarkanDPR,” ujar perwakilan mahasiswa, menegaskan kembali bahwa aksi ini adalah pernyataan perlawanan moral terhadap sistem yang dinilai gagal.
Aksi #BubarkanDPR bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan simbol kekecewaan rakyat terhadap lembaga legislatif yang kerap dianggap berjarak dengan realitas masyarakat. Bagi para demonstran, tuntutan penghapusan tunjangan DPR bukan hanya soal uang, melainkan simbol perlawanan terhadap gaya hidup mewah pejabat di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit.
Di berbagai poster aksi terlihat sindiran tajam: “Wakil Rakyat atau Wakil Oligarki?”, “Stop Privilege, Dengarkan Rakyat!”, hingga “Tunjangan DPR Sama dengan Biaya Hidup Rakyat Setahun.”
Hingga pukul 19.00 WIB, massa masih bertahan di depan Gerbang Pancasila, Gedung DPR RI. Aksi sempat diwarnai ketegangan ketika aparat kepolisian berusaha mengatur pergerakan massa yang semakin padat. Situasi membuat barisan demonstran terpecah menjadi dua kelompok, namun aksi tetap berlangsung dengan pengawalan ketat.
Meski diwarnai gesekan, para mahasiswa menegaskan akan terus bersuara jika aspirasi mereka tidak dihiraukan. “Rakyat tidak tinggal diam. Selama DPR abai, kami akan terus bergerak,” seru salah satu orator.