Hoaks Kian Canggih, Literasi Digital Harus Naik Kelas

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 8 Desember 2025 | 17:29 WIB
Narasumber dari Mafindo dan Jurnalis Senior tampil dalam Workshop dan Temu Rekan Media dengan Gubernur Jawa Tengah, Senin (8/12/2025).
Narasumber dari Mafindo dan Jurnalis Senior tampil dalam Workshop dan Temu Rekan Media dengan Gubernur Jawa Tengah, Senin (8/12/2025).


Semarang, SUARA PEMBARUAN — Maraknya hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana informasi asli dan mana manipulasi digital.

Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Jawa Tengah Ir Farid Zamroni Mardizansyah menegaskan pentingnya kemampuan verifikasi mandiri dan penggunaan alat pemeriksa fakta.

Menurutnya, penyebaran hoaks kini tidak lagi terbatas pada teks sensasional, tetapi merambah foto, video, hingga audio yang diedit dengan sangat halus.

“Gambar dan video sekarang dianalisis lewat metadata—tanggal, lokasi, bahkan perangkat. Namun banyak hoaks AI yang sudah sangat rapi, sehingga butuh ketelitian ekstra,” ujar Farid, dalam Workshop dan Temu Rekan Media dengan Gubernur Jawa Tengah, di Bandungan, Senin (8/12/2025).

Ia mencontohkan maraknya akun palsu yang mengatasnamakan tokoh publik, seperti kasus akun-akun duplikasi Tengku Zulkarnain hingga SBY.

Minimnya literasi digital membuat banyak orang mudah percaya pada akun tiruan yang sengaja dibuat untuk menggiring opini.

Untuk membantu publik, Mafindo menyediakan chatbot WhatsApp pengecek fakta. Warga dapat mengirim foto, video, atau teks untuk diverifikasi. Meski begitu, ia mengakui bahwa isu baru sering kali masih minim referensi.

“Kalau isu lama seperti ijazah Jokowi, referensinya sudah banyak. Tapi kalau banjir baru di Sukabumi terjadi hari ini, data belum lengkap.”

Mafindo juga menekankan metode SIFT (Stop, Investigate, Find, Trace) sebagai langkah berpikir kritis: berhenti sebelum membagikan, menyelidiki sumber, mencari liputan dari media lain, dan melacak konteks asli.

Dalam paparannya, Mafindo menunjukkan berbagai contoh hoaks: banjir palsu di Paris, video AI tokoh publik untuk iklan judi online, hingga manipulasi pidato pejabat yang dipotong untuk memunculkan kesan negatif.

“Hoaks bisa mempengaruhi opini publik, bahkan proses politik dan hukum. Itu sebabnya kita perlu skeptis dulu, jangan langsung percaya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan cek fakta berbasis AI masih terbatas. Dari 19 pemeriksa fakta profesional di Mafindo, hanya empat yang sudah memiliki kecakapan AI tingkat lanjut. Sisanya masih mengandalkan verifikasi manual lewat referensi media arus utama.

Mafindo mengajak media, humas pemerintah, dan masyarakat luas memperkuat pola pikir kritis dan literasi digital.

“AI bisa jadi tantangan, tetapi juga alat bantu. Kuncinya ada pada manusianya. Tanpa sikap kritis, kita akan mudah terseret arus informasi palsu.”

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Simalakama AI Untuk Media Massa

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X