kuliner

Kookboek Indonesia Mustikarasa: Petunjuk Pengolahan Makanan Masa Soekarno

Minggu, 13 Juli 2025 | 07:04 WIB
Roma

Langkah ini bukan sekadar kampanye pangan, melainkan sebuah strategi budaya: mengembalikan kepercayaan rakyat pada kekayaan alamnya sendiri. Dalam konteks inilah, lahirlah Mustikarasa—sebuah buku masakan nasional yang disusun bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air dari dapur ke dapur.

Mustikarasa bukanlah buku masak biasa. Ia adalah ensiklopedia rasa dan identitas Nusantara yang dirumuskan dengan penuh kesungguhan. Disusun dengan cakupan geografis yang luas, buku ini menghimpun beragam resep masakan dari seluruh penjuru Indonesia—dari tanah Gayo hingga kepulauan Aru, dari dapur keraton Jawa hingga api unggun masyarakat adat Kalimantan. Setiap resep dalam Mustikarasa bukan hanya dituliskan begitu saja.

Tim penyusun menguji setiap resep melalui proses test kitchen atau dapur uji, memastikan bahwa takaran, cara memasak, dan hasil akhir dapat diandalkan serta sesuai dengan cita rasa asli. Proses ini mencerminkan keseriusan proyek ini dalam menghasilkan buku yang tidak hanya informatif, tapi juga aplikatif—bisa langsung digunakan oleh masyarakat luas, dari rumah tangga hingga institusi pendidikan kuliner.

Baca Juga: Bupati Kaur Gusril Pausi Terima Penghargaan TMMD Tahun 2025 dari Mabes TNI AD

Namun Mustikarasa jauh melampaui peran sebagai buku petunjuk memasak. Ia adalah hasil dari penelusuran kuliner budaya, sebuah proyek besar yang mendokumentasikan kekayaan etnografi melalui makanan. Di balik setiap resep, tersimpan latar belakang budaya, nilai-nilai sosial, hingga cerita rakyat yang menyertainya—menjadikan buku ini sebagai alat pencerita sejarah dan jati diri bangsa.

Misalnya, dalam resep nasi tumpeng, bukan hanya diuraikan bagaimana cara memasak dan menyajikan, tetapi juga filosofi yang menyertai bentuknya yang kerucut, simbolisasi persembahan, hingga makna sosial dalam tradisi selamatan. Dalam makanan khas Minahasa, bukan hanya cabai dan rempah yang dibahas, tetapi juga semangat keberanian dan kemandirian yang terpatri dalam budaya makan masyarakatnya.

Baca Juga: Wujudkan Lingkungan Bersih Pertamina buat Trash Barrier Sungai Pasar Lakessi

Karena itu, Mustikarasa layak disebut sebagai representasi budaya Indonesia dalam bentuk kuliner. Ia adalah cermin kebinekaan yang konkret—di mana perbedaan rasa, bahan, dan cara memasak justru menjadi kekayaan yang patut dihargai, bukan dipertentangkan. Buku ini menyatukan keanekaragaman lewat meja makan, memperkuat semangat toleransi dan penghormatan antarbudaya.

Lebih dari itu, Mustikarasa juga menjadi alat diplomasi budaya Indonesia di mata dunia. Sebagaimana musik atau tari bisa menjadi jembatan antarbangsa, kuliner pun memiliki kekuatan serupa.

Buku ini memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya negeri rempah dan bumbu, tetapi juga negeri cerita, filosofi, dan nilai-nilai luhur yang disampaikan melalui masakan. Dengan demikian, kookboek Mustikarasa sangat relevan untuk dibaca oleh masyarakat Indonesia untuk mempertahankan warisan budaya nenek moyang dan identitas bangsa Indonesia.

 

 

 

Halaman:

Tags

Terkini

Durian Kawuk Raja Tandingi Rasa Musang King

Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:25 WIB

Semarak BGCC 2025 di MP Makassar

Minggu, 3 Agustus 2025 | 12:56 WIB

Bright Gas Cooking Competition 2025 di Makassar

Kamis, 31 Juli 2025 | 10:23 WIB