Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Mustikarasa, sebuah kookboek atau buku masakan Indonesia yang dibuat oleh masa pemerintahan Presiden Soekarno. P seiring waktu dan derasnya arus modernisasi, nama Mustikarasa memudar dari ingatan masyarakat Indonesia. Buku tebal setebal lebih dari 1000 halaman ini tidak lagi akrab di rak buku keluarga.
Namun, angin segar mulai berembus dari dunia perfilman nasional. Kehadiran film Rahasia Rasa yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang ditayangkan di bioskop pada 20 Februari 2025 tersebut mampu memperkenalkan buku tersebut kepada masyarakat masa kini.
Baca Juga: Pendidikan Anak Pesisir Pemukiman Candi, Bitung, Jadi Fokus Perhatian Pertamina
Film ini menarasikan seorang koki terkenal yang kehilangan kemampuan merasakan masakan sehingga ia kembali menjelajah warisan kuliner Nusantara dalam konsep Mustikarasa. Mustikarasa bukan hanya buku, tapi menjadi “kompas rasa” yang memulihkan sang koki, sekaligus memperkaya jiwa penonton.
Mustikarasa disusun oleh Lembaga Teknologi Makanan Indonesia melalui Panitia Buku Masakan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertama No.304/M.P./1961.tg:29/6/1961 dan No. 136/M.P./1962. Buku ini diselesaikan oleh Panitia Penyelesaian Buku Masakan Indonesia yang bertugas menyempurnakan, mencetak, dan menjual buku ini.
Baca Juga: Polisi Telusuri Dugaan Pergeseran Arah CCTV dalam Kematian Diplomat Arya Daru
Tidak hanya itu, buku ini pun diharapkan dapat menjadi sebuah petunjuk bagi masyarakat untuk dapat mengolah bahan-bahan makanan yang ada di daerahnya menjadi sajian yang lezat dan bermanfaat.
Awalnya, tema pemerintah “berdiri di atas kaki sendiri” pada bidang pangan menjadikan inisiasi untuk meningkatkan produksi pangan. Dengan semangat kemandirian ini, Mustikarasa diharapkan menjadi petunjuk nasional dalam pengolahan makanan, sekaligus alat edukasi yang memberdayakan dapur rumah tangga.
Pada pertengahan masa 1965, penduduk Indonesia yang berjumlah 105.450.000. Angka tersebut menjadikan kebutuhan diversifikasi bahan makanan menjadi sangat mendesak. Meskipun pemerintah kala itu membanggakan keberhasilan swasembada beras, kenyataannya masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis pangan pokok saja.
Di sinilah negara turun tangan dengan pendekatan yang tidak biasa: mengubah dapur rakyat menjadi medan perjuangan ekonomi dan kemandirian bangsa. Pemerintah mendorong pola makan baru yang tidak hanya bertumpu pada beras, tetapi memanfaatkan aneka bahan lokal yang lebih beragam dan mudah didapat.
Baca Juga: Warga Gaza Rebutan Mendapatkan Bantuan Air Bersih PMI
Dalam Mustikarasa (1964), tergambar jelas semangat ini. Pemerintah tidak hanya mempromosikan jagung dan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat alternatif, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengeksplorasi potensi alam Indonesia yang sering terabaikan. Ikan dan daging lokal, bonggol teratai, rumput laut, dan berbagai bahan nabati lainnya diangkat sebagai sumber nutrisi yang layak dan menggugah selera.
Artikel Terkait
Indonesia Luncurkan AI Center of Excellence untuk Bangun Kedaulatan dan Inklusivitas Teknologi Kecerdasan Buatan
Warga Gaza Rebutan Mendapatkan Bantuan Air Bersih PMI
Pendidikan Anak Pesisir Pemukiman Candi, Bitung, Jadi Fokus Perhatian Pertamina
Jonathan Frizzy Ditahan Terkait Kasus Vape Etomidate, Kondisi Kesehatan Dinilai Stabil
Kematian Brigadir Nurhadi Masih Diselimuti Misteri, Kompolnas: Peran Aktor Utama Akan Terbuka di Persidangan
Kejagung Sita Bukti Elektronik dari Kantor GoTo, Nadiem Makarim Akan Diperiksa dalam Kasus Chromebook
Tim Kuasa Hukum Lita Gading Tantang Bukti Dugaan Pelanggaran ITE dan Kekerasan Psikis: "Ini Negara Hukum, Bukan Warisan Leluhur"
Polisi Telusuri Dugaan Pergeseran Arah CCTV dalam Kematian Diplomat Arya Daru
Perkuat Sinergi Layanan Energi, Manajemen Pertamina Patra Niaga Audiensi dengan Wakapolda Maluku Utara
Fashion Culture Carnaval Memikat Wisatawan di Ajang Beautiful Malino 2025