Kookboek Indonesia Mustikarasa: Petunjuk Pengolahan Makanan Masa Soekarno

Photo Author
Bangun P Lubis, Suara Pembaruan
- Minggu, 13 Juli 2025 | 07:04 WIB
Roma
Roma

 

Roma Kyo Kae Saniro

Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Mustikarasa, sebuah kookboek atau buku masakan Indonesia yang dibuat oleh masa pemerintahan Presiden Soekarno. P seiring waktu dan derasnya arus modernisasi, nama Mustikarasa memudar dari ingatan masyarakat Indonesia. Buku tebal setebal lebih dari 1000 halaman ini tidak lagi akrab di rak buku keluarga.

Namun, angin segar mulai berembus dari dunia perfilman nasional. Kehadiran film Rahasia Rasa yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang ditayangkan di bioskop pada 20 Februari 2025 tersebut mampu memperkenalkan buku tersebut kepada masyarakat masa kini.

Baca Juga: Pendidikan Anak Pesisir Pemukiman Candi, Bitung, Jadi Fokus Perhatian Pertamina

Film ini menarasikan seorang koki terkenal yang kehilangan kemampuan merasakan masakan sehingga ia kembali menjelajah warisan kuliner Nusantara dalam konsep Mustikarasa. Mustikarasa bukan hanya buku, tapi menjadi “kompas rasa” yang memulihkan sang koki, sekaligus memperkaya jiwa penonton.

Mustikarasa disusun oleh Lembaga Teknologi Makanan Indonesia melalui Panitia Buku Masakan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertama No.304/M.P./1961.tg:29/6/1961 dan No. 136/M.P./1962. Buku ini diselesaikan oleh Panitia Penyelesaian Buku Masakan Indonesia yang bertugas menyempurnakan, mencetak, dan menjual buku ini.

Baca Juga: Polisi Telusuri Dugaan Pergeseran Arah CCTV dalam Kematian Diplomat Arya Daru

Tidak hanya itu, buku ini pun diharapkan dapat menjadi sebuah petunjuk bagi masyarakat untuk dapat mengolah bahan-bahan makanan yang ada di daerahnya menjadi sajian yang lezat dan bermanfaat.

Awalnya, tema pemerintah “berdiri di atas kaki sendiri” pada bidang pangan menjadikan inisiasi untuk meningkatkan produksi pangan. Dengan semangat kemandirian ini, Mustikarasa diharapkan menjadi petunjuk nasional dalam pengolahan makanan, sekaligus alat edukasi yang memberdayakan dapur rumah tangga.

Pada pertengahan masa 1965, penduduk Indonesia yang berjumlah 105.450.000. Angka tersebut menjadikan kebutuhan diversifikasi bahan makanan menjadi sangat mendesak. Meskipun pemerintah kala itu membanggakan keberhasilan swasembada beras, kenyataannya masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis pangan pokok saja.

Di sinilah negara turun tangan dengan pendekatan yang tidak biasa: mengubah dapur rakyat menjadi medan perjuangan ekonomi dan kemandirian bangsa. Pemerintah mendorong pola makan baru yang tidak hanya bertumpu pada beras, tetapi memanfaatkan aneka bahan lokal yang lebih beragam dan mudah didapat.

Baca Juga: Warga Gaza Rebutan Mendapatkan Bantuan Air Bersih PMI

Dalam Mustikarasa (1964), tergambar jelas semangat ini. Pemerintah tidak hanya mempromosikan jagung dan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat alternatif, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengeksplorasi potensi alam Indonesia yang sering terabaikan. Ikan dan daging lokal, bonggol teratai, rumput laut, dan berbagai bahan nabati lainnya diangkat sebagai sumber nutrisi yang layak dan menggugah selera.

Halaman:

Editor: Bangun P Lubis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Durian Kawuk Raja Tandingi Rasa Musang King

Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:25 WIB

Semarak BGCC 2025 di MP Makassar

Minggu, 3 Agustus 2025 | 12:56 WIB

Bright Gas Cooking Competition 2025 di Makassar

Kamis, 31 Juli 2025 | 10:23 WIB
X