Dari sini dapat kita lakukan pendekatan logika, mengapa Nabi Ismail begitu taat kepada ayah dan ibunya dalam hal ibadah kepada Allah Ta’ala? Ternyata itu semua terjadi tidak lain karena sejak lahir, balita, anak-anak dan remaja, Nabi Ismail tidak pernah dididik, kecuali oleh ibunya sendiri. Hal inilah yang belakangan diungkap oleh seorang professor psikologi perkembangan Amerika Serikat, Thomas Lickona, bahwa tumbuh kembangnya intelektual dan moral setiap anak lahir dari rumah mereka sendiri. Artinya, tidak mungkin akan muncul generasi unggul dari rumah yang anak-anaknya tidak mendapat hak pendidikan yang benar dari kedua orang tuanya.
Bukti Cintaku
Selain manifestasi iman, merawat anak dengan tangan sendiri merupakan implementasi cinta. Demikian disampaikan oleh Thomas Lickona dalam bukunya Character Matter. “Sejumlah studi menunjukkan pentingnya kasih sayang orang tua untuk pertumbuhan kesehatan anak-anak. Cinta membuat anak merasa aman, signifikan, dan berharga. Ketika anak-anak merasa dicintai, mereka menjadi terikat secara emosional kepada orang tua. Keterikatan itu membuat mereka lebih responsif terhadap otoritas dan menerima nilai-nilai yang diajarkan orang tua,” tulisnya.
Lebih dari itu, Lickona menegaskan bahwa cinta kepada anak itu berarti menghabiskan waktu dengan anak-anak. Artinya, sehari semalam, sangat ideal orang tua, utamanya ibu senantiasa ada di samping anak-anak. Dalam konteks ini, maka apa yang Allah tegaskan di dalam friman-Nya agar kaum hawa tidak keluar dari rumah kecuali penting, bermakna lebih kompleks, karena kaum ibu harus konsentrasi dan bersungguh-sungguh merawat dan mendidik anak-anaknya di rumah.
Bukan malah yang lainnya. ”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 33). Demi Allah memuliakan dan menjaga serta mendidik anak demikian diwajibkan dalam Islam.(*)