SuaraPembaruan.News - Semua orang harus tahu bagaimana istimewanya Puasa yang dijalankan oleh umat Islam dalam bulan Ramadhan. Salah satu keistimewaan Puasa Ramadhan adalah Allah SWT membuka peluang lebar bagi kita untuk membersihkan dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan.
Namun, kita hendaklah melaksanakan puasa itu dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran serta keikhlasan. Tentang kenyataan itu, Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.(HR. Ahmad) .
Lalu dalam bulan ini, ada satu malam yang istimewa yaitu malam lailatul qodar. Malam ini penuh dengan keberkahan, kedamaian, kesyahduan, dan malam yang mulia dari seribu bulan. Subhanallah.
Bulan Ramadhan adalah bulan menekan hawa nafsu. Banyak peristiwa yang begitu besar hikmahnya bagi manusia. Bahkan pada bulan pusa Ramadhan ini, ada satu malam yang disebut malam lailatul qodar, yang meruopakan satu malam dari seribu bulan yang bisa menghapus dosa-dosa kita bila memanfaatkannya dengan kekhusu’an dan ketaqwaan yang sempurna dengan ibadah yang baik dan tekun.
Baca Juga: Ramadhan Bulan Latihan Untuk ‘Berpuasa’ Sepanjang Tahun
Kutipan firman Allah dalam AlQuran yang menjadi pedoman terhadap satu malam dalam seribu bulan yang dinamai dengan malam lailatul qodar. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).
Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1).
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,;”“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3 - 5).
Lailatul Qadar itu terjadi sebagaimana kebanyakan ulama menyebutkan, pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, yang juga merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyuruh umatnya, mencari dan menanti berusaha untuk memperolehnya.” “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim).
Baca Juga: Jelang Arus Mudik, Perbaikan Jalan Longsor Bengkulu-Kepahiang Dikebut
Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.
Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari).
Seorang ulama besar, *Muhammad Abduh Tuasika*, sebagaimana dikutip dalam tulisannya di situs rumaysho.com, menyebutkan hikmahnya, bahwa Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas.