Namun kesalahan tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada negara. Setiap individu memiliki tanggung jawab. Setiap keluarga adalah benteng pertama adab. Allah ﷻ berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Neraka bukan hanya akibat dosa besar, tetapi juga buah dari kebiasaan meremehkan nilai.
Rasulullah ﷺ datang bukan membawa peradaban kosong. Allah sendiri memuji beliau, “Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4). Akhlak adalah inti risalah. Jika umat Islam kehilangan akhlak, maka yang tersisa hanyalah simbol tanpa ruh.
Baca Juga: Sambutan Wisatawan Perdana 2026 dengan Tradisi Budaya dan Aksi Hijau Warnai
Hari ini, menjadi orang beradab justru terasa berat. Menjaga lisan saat orang lain mencaci, bersikap jujur saat kebohongan dimaklumi, bersikap rendah hati saat kesombongan dirayakan—itulah perjuangan sejati di zaman ini. Inilah jihad sunyi yang jarang disorot, tetapi sangat menentukan.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang takut kepada Allah. Tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan hikmah. Selama adab terus dipinggirkan, selama nilai luhur dianggap beban, jangan heran jika keberkahan menjauh perlahan.
Baca Juga: Arifuddin Saeni, Si Tangan Dingin Memimpin KONI Gowa
Semoga Allah ﷻ menghidupkan kembali rasa malu di hati kita, mengembalikan adab ke dalam kehidupan publik, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap berdiri menjaga nilai—meski arus zaman menyeret ke arah sebaliknya. Karena tanpa adab, sebuah negeri mungkin masih bernama negara, tetapi sejatinya telah kehilangan cahaya.