Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - InJourney Destination Management (IDM) kembali menggelar tradisi penyambutan wisatawan pertama di Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, serta unit Teater dan Pentas. Acara yang telah menjadi agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol penghormatan sekaligus komitmen menghadirkan pengalaman berwisata yang berakar pada budaya dan keberlanjutan lingkungan.
Suasana penyambutan berlangsung hangat. Direksi dan manajemen IDM tampil mengenakan busana tradisional Jawa, mulai dari kebaya putih, beskap hitam, lurik coklat, hingga jarik dan blangkon. Wisatawan yang tiba disambut dengan syal batik ecoprint, lalu diiringi arak-arakan seni tradisi bregodo menuju area utama destinasi. Kehadiran bregodo bukan hanya memperkuat nuansa budaya, tetapi juga menjadi lambang keramahan Nusantara bagi tamu yang datang di hari pertama tahun baru.
Tradisi ini tidak berhenti pada simbol budaya semata. Wisatawan bersama jajaran direksi IDM turut menanam pohon Bungur di kawasan candi. Bungur, yang dalam tradisi Jawa melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan energi positif, sekaligus telah lama menjadi bagian dari lanskap heritage, dipilih sebagai simbol pertumbuhan dan keberlanjutan. Para pengunjung juga menerima souvenir berupa syal eco-print bermotif daun Bungur dan Bodhi, serta paket benih Bungur untuk ditanam di rumah masing-masing. Dengan cara ini, penyambutan wisatawan pertama tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga mengajak mereka berkontribusi pada masa depan yang lebih hijau.
Direktur Komersial IDM, Gistang Panutur, menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan semangat Melayani Sepenuh Hati. Ia menekankan bahwa penyambutan pengunjung pertama bukan sekadar tradisi, melainkan wujud komitmen menghadirkan pelayanan prima yang berakar pada budaya lokal. Melalui arak-arakan bregodo, wisatawan diharapkan merasakan hangatnya sambutan Nusantara sekaligus mengenal nilai luhur budaya yang dilestarikan. Penanaman pohon, menurutnya, menjadi simbol pertumbuhan dan keberlanjutan, sekaligus mengajak wisatawan berkontribusi pada masa depan yang lebih hijau.
Salah satu wisatawan pertama di Keraton Ratu Boko, Darma asal Tangerang, mengaku terkesan dengan pengalaman tersebut. Ia menceritakan bahwa kunjungan itu terjadi secara spontan ketika sedang bersepeda di sekitar penginapan. Keputusan untuk mampir ke Ratu Boko ternyata menghadirkan pengalaman yang berkesan, terutama karena sambutan hangat yang diterima. Darma juga menyoroti penataan kawasan yang rapi dan kebersihan lingkungan yang terjaga.
IDM menegaskan bahwa komitmen mereka bukan hanya pada pelayanan, tetapi juga pada integrasi seni, budaya, sejarah, dan kelestarian alam. Dengan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas, perusahaan berharap destinasi yang mereka kelola dapat menjadi ruang pariwisata, edukasi, dan spiritualitas kelas dunia.
Momentum penyambutan wisatawan pertama 2026 semakin bermakna karena diperkuat dengan capaian kunjungan akhir tahun 2025. Dalam periode 20 hingga 31 Desember, Taman Wisata Candi dan unit Teater serta Pentas mencatat total 285.060 wisatawan. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap warisan budaya Nusantara sebagai pilihan utama liburan pergantian tahun. Candi Prambanan menjadi magnet utama dengan jumlah kunjungan tertinggi, sementara Borobudur, Keraton Ratu Boko, dan unit Teater serta Pentas juga mencatat angka signifikan.
Gistang menutup dengan optimisme besar terhadap masa depan pariwisata. Ia menekankan bahwa lebih dari 285 ribu kunjungan dalam kurun waktu kurang dari dua minggu memberi harapan besar bagi pertumbuhan sektor ini. Harapannya, setiap wisatawan tidak hanya pulang membawa foto, tetapi juga pengalaman batin dan apresiasi mendalam terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Artikel Terkait
PT TWC Siap Atur Kuota Wisatawan ke Candi Borobudur
Operasi Patuh Candi di Simongan Semarang: Tindakan Tegas Tanpa Kekerasan Demi Keselamatan Jalan Raya
IDM Tetap Hadirkan Momen Spesial di Candi Prambanan Meski Tanpa Kembang Api