Tangis Ibu dr. Icha Pecah di Pemakaman, Ungkap Telepon Terakhir: 'Mama, Saya Sedang Diintimidasi'

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 30 Juni 2026 | 21:48 WIB
Percakapan terakhir dr. Icha diungkap sang ibu di tengah upaya penyelidikan polisi terkait dugaan intimidasi. (Instagram.com/@nowdots)
Percakapan terakhir dr. Icha diungkap sang ibu di tengah upaya penyelidikan polisi terkait dugaan intimidasi. (Instagram.com/@nowdots)

Kupang, SUARA PEMBARUAN – Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha di Kabupaten Kupang, Senin (29/6/2026). Di tengah isak tangis keluarga, kesaksian sang ibu, Nur Azizah, menjadi perhatian setelah mengungkap percakapan terakhir dengan putrinya sebelum meninggal dunia.

Dalam keterangannya, Nur Azizah mengaku menerima telepon dari dr. Icha yang saat itu menangis dan mengaku mengalami tekanan ketika menjalankan tugas sebagai dokter di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Menurut Nur, peristiwa itu terjadi setelah putrinya menangani seorang pasien anak korban gigitan ular. Ia mengatakan dr. Icha merasa tertekan karena mengaku mendapat perlakuan yang membuatnya ketakutan meski telah menjalankan tindakan medis sesuai prosedur.

"Anak saya menelepon sambil menangis dan menjerit," ujar Nur Azizah dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).

Menurut Nur, putrinya mengatakan, "Mama, saya sedang diintimidasi anggota dewan."

Nur menuturkan, dr. Icha juga menyampaikan bahwa sebelum mengambil keputusan medis, dirinya telah berkonsultasi dengan dokter yang memiliki kompetensi dalam penanganan kasus gigitan ular.

"Dia berkata lagi, 'Saya sudah berkonsultasi dengan dokter ahli bisa ular satu-satunya di Indonesia, dr. Tri Maharani'," tutur Nur.

Mendengar cerita tersebut, Nur berusaha menenangkan putrinya. Sebagai Kepala Laboratorium Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia meyakini bahwa izin praktik dokter maupun operasional rumah sakit tidak dapat dihentikan secara sepihak tanpa melalui mekanisme hukum dan administrasi yang berlaku.

"Saya bilang, 'Jangan takut. Tidak semudah itu membekukan izin praktik maupun operasional rumah sakit'. Semua ada mekanismenya," katanya.

Namun, menurut Nur, tekanan yang dialami putrinya terus membekas hingga memengaruhi kondisi psikologisnya.

Ia mengungkapkan, dr. Icha sempat mengaku takut izin praktiknya dicabut dan rumah sakit tempatnya bekerja dihentikan operasionalnya. Kekhawatiran itu disebut terus menghantui hingga membuat kondisi mental putrinya semakin terpuruk.

"Mama, saya sudah tidak kuat," ujar Nur menirukan ucapan terakhir putrinya.

Dengan suara bergetar, Nur mengaku tidak pernah membayangkan musibah tersebut akan menimpa anaknya.

"Saya tidak pernah membayangkan dan bermimpi, hal seperti ini bisa terjadi kepada anak saya," tuturnya.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X