Energi Bersih Jadi Senjata Baru SIG Hadapi Tantangan Iklim

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 23 April 2026 | 17:18 WIB
Fasilitas panel surya di atap gedung utama kantor SBI Pabrik Tuban, Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi hijau.
Fasilitas panel surya di atap gedung utama kantor SBI Pabrik Tuban, Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi hijau.

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Isu iklim bukan lagi sekadar wacana global—industri pun dituntut bergerak cepat. SIG memilih tancap gas dengan menjadikan prinsip ESG sebagai fondasi utama strategi bisnisnya.

Komitmen itu tidak sekadar wacana. SIG mulai memperluas penggunaan energi terbarukan sekaligus mempercepat pemulihan lahan bekas tambang. Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyebut bahwa aspek keberlanjutan kini bukan lagi pelengkap, melainkan faktor utama yang memperkuat daya saing sekaligus menjaga keberlangsungan operasional.

Menurutnya, berbagai inisiatif yang dijalankan menunjukkan bahwa performa bisnis dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan dalam menghadapi tantangan industri.

Salah satu langkah signifikan terlihat dari pemanfaatan bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah kota yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF). Sepanjang 2025, penggunaan bahan bakar alternatif ini melonjak 24 persen menjadi 681 ribu ton. Dampaknya, konsumsi batu bara berhasil ditekan hingga setara 467 ribu ton, sekaligus mendorong tingkat substitusi termal mencapai 9,77 persen.

Tak hanya menekan emisi gas rumah kaca, inovasi ini juga membantu mengatasi persoalan limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru, termasuk bagi sektor pertanian melalui pemanfaatan biomassa.

Di sisi lain, SIG juga mempercepat adopsi energi bersih lewat pemasangan panel surya di berbagai fasilitas operasional serta pemanfaatan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang mengubah panas sisa produksi menjadi listrik.

Langkah ini membuahkan hasil nyata. Intensitas emisi gas rumah kaca cakupan 1 turun 21 persen dibandingkan baseline 2010, sementara emisi cakupan 2 berhasil ditekan 15 persen dari baseline 2019.

Pada sektor pertambangan, SIG juga konsisten menjalankan praktik berkelanjutan dengan merehabilitasi lingkungan. Hingga 2025, total lahan pascatambang yang telah direklamasi mencapai 628 hektare yang tersebar di berbagai area operasional.

Upaya tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah melalui enam penghargaan PROPER Hijau 2025 yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia kepada sejumlah unit usaha SIG dan anak perusahaannya.

Ke depan, SIG memastikan akan terus mempercepat transformasi industri bahan bangunan dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan, inovatif, dan bertanggung jawab, seiring tuntutan zaman yang semakin mengedepankan keberlanjutan.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X