Jakarta, SUARA PEMBARUAN — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menunjukkan langkah agresif dalam memperkuat posisinya di industri bahan bangunan dengan membuka peluang kolaborasi global di ajang INTERCEM Asia 2026. Forum internasional ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperluas inovasi serta membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari transformasi SIG menuju model bisnis yang lebih berorientasi pada kebutuhan pelanggan dan menghasilkan nilai tambah tinggi. Dalam konferensi bertajuk “Leading Sustainable Building Solution for a Resilient Future”, Wakil Direktur Utama SIG, Andriano Hosny Panangian, menegaskan bahwa pasar bahan bangunan di Indonesia masih sangat luas dan potensial untuk dikembangkan.
Menurutnya, kontribusi industri semen saat ini baru mencakup sekitar 11% dari total biaya material konstruksi. Artinya, masih ada peluang besar dari sektor bahan bangunan lainnya yang bisa dioptimalkan. Dengan jaringan distribusi yang kuat, SIG kini mengarahkan strategi bisnisnya untuk lebih fokus pada pengembangan produk turunan berbasis inovasi.
SIG juga terus memperkuat efisiensi energi sebagai respons terhadap dinamika industri. Perusahaan menempatkan prinsip keberlanjutan sebagai fondasi operasional, di antaranya melalui digitalisasi, kolaborasi rantai pasok, serta pemanfaatan energi alternatif. Penggunaan biomassa, RDF (refuse-derived fuel), hingga limbah industri sebagai bahan bakar terus ditingkatkan. Selain itu, SIG mengembangkan energi terbarukan melalui panel surya dan teknologi pemanfaatan panas buang menjadi listrik.
Hasilnya, pada 2025 SIG berhasil meningkatkan tingkat substitusi energi panas menjadi 9,77%, naik dari 7,56% pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, intensitas emisi gas rumah kaca juga berhasil ditekan secara signifikan, baik dari operasional langsung maupun penggunaan energi listrik.
Seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari strategi besar SIG yang dirangkum dalam empat pilar utama, yakni inovasi produk berkelanjutan, kemitraan strategis dan diversifikasi ekosistem, keunggulan rantai pasok, serta optimalisasi teknologi dan digitalisasi. Strategi ini dirancang untuk memperkuat daya tahan bisnis di masa depan sekaligus meminimalkan risiko.
Melalui INTERCEM Asia 2026, SIG juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari produsen, pemasok, hingga penyedia teknologi guna mempercepat transformasi perusahaan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menilai industri semen dan mineral nonlogam memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Pada 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 6,16% dengan investasi mencapai Rp25 triliun dan nilai ekspor sebesar USD1,79 miliar, serta menyerap lebih dari 900 ribu tenaga kerja.
INTERCEM Asia 2026 pun dinilai bukan sekadar ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah strategis untuk memperkuat kemitraan global, mendorong inovasi, serta meningkatkan daya saing industri menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.*
Artikel Terkait
Solusi Bangun Indonesia Catat Laba Naik 63% di Semester I 2025, Perkuat Efisiensi dan Inovasi Hijau
SIG Kirim 36 Ribu Bata Interlock Presisi, Percepat Pembangunan Huntap Korban Banjir Padang
Keselamatan Jadi Prioritas, SIG Raih Zero Fatality dan Sederet Penghargaan
SIG Tancap Gas ke Afrika: Ekspor Perdana 45 Ribu Ton Klinker ke Mauritania
Gaspol Transformasi! SIG Bangkit di Tengah Lesunya Industri Semen